Ilustrasi. Umat Islam aliran Aboge di Banyumas saat menunaikan ibadah salat Idul Fitri beberapa waktu lalu. (Foto: ANTARA)



KBR, Banyumas – Ribuan umat Islam penganut aliran Alif Rebo Wage (Aboge) di sejumlah daerah di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah merayakan Hari Raya Idul Adha pada hari ini, Rabu (14/09/2016), atau selang dua hari setelah ketetapan pemerintah.

Mereka menggelar salat Idul Adha di Masjid Saka Tunggal, Cikakak. Masjid ini disebut sebagai masjid tertua di Indonesia dan menjadi tempat sakral bagi penganut aliran Aboge.

Dalam penghitungan kalender bulan, aliran Aboge menggunakan sistem penghitungan kalender warisan ulama Raden Rasyid Sayid Kuning dari Pajang, pada abad 14 lalu. Kalender Aboge merupakan perhitungan dalam satu windu (delapan tahun), setiap tahun terdiri dari 12 bulan dan satu bulan terdiri dari 29-30 hari. Sedangkan hari yang digunakan menggunakan hari pasaran (lima hari).

Aliran ini dikenal sebagai Aboge atau Alif Rebo Wage, karena hari dan pasaran pertama jatuh pada tahun Alif hari Rebo pasaran Wage.

Juru kunci Masjid Saka Tunggal, Sulam mengatakan dalam penanggalan Aboge, tanggal 1 Muharam 1437 Hijriah jatuh pada hari Jumat Pon. Sedangkan untuk menentukan tanggal 1 Zulhijah atau awal bulan Haji menggunakan hitungan Jah-pat-ji (Zulhijah Papat Siji).

Kendati berbeda hari, Sulam menjelaskan, syarat rukun ibadah salat Idul Adha sama dengan penganut Islam lainnya.

Usai salat Idul Adha dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Namun sebelum dilakukan penyembelihan hewan kurban, biasanya penganut Aboge akan bersilaturahmi kepada yang dituakan, yakni juru kunci.

"Pada delapan tahun nanti juga akan kembali seperti semula lagi. (Jumlah hari tiap bulannya) selang seling 29 hari lalu 30 hari. Seperti itu perhitungannya. Tetapi sudah ada patennya, sehingga bisa dirumuskan tahun depan atau tahun depan berikutnya bisa diketahui. Secara hitungan Hijriyah itu penanggalan rembulan (qomariyah). (Ritualnya) sama saja, hanya berbeda hari saja," kata Sulam.

Sulam mengungkapkan, dia adalah juru kunci ke-12 di Masjid Saka Tunggal. Namun, ia tidak tahu pasti tahun berapa aliran Aboge masuk ke Desa Cikakak dan menjadi mayoritas di desa tersebut. Jumlah penganut Aboge di Desa Cikakak berkisar antara 5000 hingga 6000 orang.

Berharap tetap diterima

Ia menambahkan, hitungan Aboge telah digunakan sejak zaman Sultan Agung dari Kerajaan Mataram pada tahun 1288 Maeshi dan masih digunakan sebagian masyarakat Jawa hingga saat ini.

Meski berbeda sistem perhitungan kalender, Sulam berharap Islam Aboge tetap diterima di masyarakat umum dan tidak didiskriminasi. Sebab, secara hukum syariah, Islam Aboge tidak berbeda dengan penganut Islam pada umumnya.

Sulam mengatakan dalam setiap khutbah shalat hari raya, baik Idul Adha maupun Idul Fitri, khatib memakai bahasa Arab. Kata dia, hal ini meneguhkan bahwa Islam Aboge juga memiliki dasar hukum yang sama, yakni Alquran.

Penganut Islam Aboge banyak tersebar di Banyumas dan Cilacap. Di Banyumas antara lain, di Cikakak Kecamatan Wangon, Pancasan dan Krakal Kecamatan Ajibarang, serta Cihonje Kecamatan Pakuncen.

Di Kabupaten Cilacap, penganut aliran aboge dengan jumlah siginifikan ada di Desa Karangtawang dan Desa Karanganyar Kecamatan Gandrungmangu.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!