Ternak sapi perah milik peteni Koperasi Karyo Remboko, Banyuwangi, Jawa Timur. Foto: KBR/Hermawan



KBR, Banyuwangi- Sebanyak 80 peternak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, berhasil mengembangkan usaha sapi perah di dataran rendah. Selama ini usaha sapi perah identik dilakukan di kawasan dataran tinggi dan berhawa dingin.

Ketua Koperasi Karyo Remboko Banyuwangi yang juga salah satu peternak, Edy Sutrisno, mengatakan upaya untuk mengembangkan peternakan sapi perah sudah mereka lakoni dalam beberapa tahun terakhir.

“Dari yang semula saya memelihara tiga ekor, kini sapinya berkembang menjadi 20 ekor,” kata Edy, Selasa (20/9/2016).

Kata Edi, 80 peternak yang tergabung di koperasinya sukses mengembangkan sapi perah yang produktif memproduksi ribuan liter susu segar per hari.

“Dari posisi seperti ini jumlah populasi peternak kita itu yang produksi sejumlah 650, sementara untuk non produksi itu terdiri dari hamil tua dan beranak itu sudah mencapai 300 lebih. Jadi perkembangan terakhir seperti ini populasi terus kita tingkatkan alhamdulillah ini banyak juga calon peternak dan peternak besar yang mulai mau masuk. Kebetulan alhamdulillah  di daerah Selatan kita mendapatkan surplus dari adanya tanaman jeruk dan buah naga.”

Melalui koperasi itu pula, Edy menambahkan, dirinya bersama anggota lain telah menjadi salah satu pemasok susu segar bagi perusahaan susu swasta di Indonesia.

Menurut Edy, rata-rata susu yang dihasilkan peternak sapi Purwoharjo ini masuk grade 1-2. "Kriterianya adalah kadar lemaknya di atas 12 persen, berat jenisnya di atas 1,014 dan kandungan bakterinya (TPC) di bawah 1 juta per mililiter."

Koperasi mengambil susu dari peternak dengan harga standar per liternya Rp4.700. Sementara susu dijual ke perusahaan susu sesuai dengan grade yang ditentukan oleh perusahaan, yakni grade 1-4. Untuk grade 1 atau grade tertinggi harganya sebesar Rp5.200/ liter, selanjutnya untuk setiap penurun grade harga dikurangi Rp200 per liternya.

“Setiap dua hari sekali, secara rutin koperasi tersebut mampu mengirim susu sebanyak 3.000 liter ke pabrik susu.”

Sejak 2011, peternak di Banyuwangi menjadi salah satu pemasok susu ke Nestle yang difasilitasi oleh pemerintah daerah.

Menurut Edy, beternak di daerah yang berhawa relatif panas maupun di dataran tinggi tidak jauh berbeda. Kata dia, beternak sapi perah tidak harus di dataran tinggi, di daerah yang panas seperti di sini juga bisa dijalankan.

“Kuncinya adalah disiplin, dan menjaga asupan makanan maupun nutrisi dari sapi perah tersebut,” pungkas Edy.

Editor: Malika

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!