Ilustrasi. Dua orang pria sedang bermain dalam Tari Caci atau tari perang di Ruteng, Flores, NTT. (Foto Rosino/Flickr/Creative Commons)



KBR, Kupang - Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur akan membuat Peraturan Daerah mengenai Tarian Caci.

Wakil Bupati Manggarai Barat Maria Geong mengatakan, Tarian Caci atau tari perang merupakan satu-satunya jenis tarian daerah yang banyak makna.

Dalam tarian itu terdapat unsur seni, olahraga dan lain-lain.

Tari Caci adalah tari perang antara dua orang pria, satu orang menggunakan cambuk dan yang lain bertahan menggunakan perisai dan busur penangkis dan kemudian bergantian bertukar posisi. Mereka yang melakukan Tari Caci mengenakan tutup kepala dan topeng pelindung wajah.

"Tari Caci ini saya kira satu-satunya yang ada di dunia. Ini merupakan kesatuan antar atraksi budaya, adat, kemudian juga mungkin juga olahraga didalamnya. Juga berbagai hal lain yang sarat makna. Dan ini merupakan salah satu destinasi wisata budaya yang akan dikembangkan dan akan dibentuk dalam Peraturan Daerah," kata Maria Geong melalui sambungan telepon, Rabu (14/9/2016).

Wakil bupati Manggarai Barat Maria Geong menambahkan, Peraturan Daerah tentang Tarian Caci masih dalam proses penyusunan draf.

Dia mengatakan, pemerintah Manggarai Barat sedang menata berbagai obyek wisata di daerah itu, termasuk Festival Tarian Caci.

Tarian Caci biasanya digelar saat syukuran musim panen dan ritual tahun baru, upacara adat atau untuk menyambut tamu-tamu penting.

Bagi masyarakat di kawasan Manggarai, NTT, caci merupakan pesta besar. Setiap ada acara tari caci selalu disertai pemotongan ternak kerbau untuk suguhan peserta dan penonton.

Pemerintah Manggarai Barat juga akan membangun penginapan di desa-desa yang memilik obyek wisata. Dia mengatakan, desa-desa di Manggarai Barat memiliki banyak obyek wisata menarik, namun akses ke desa masih sulit dan di desa juga belum ada penginapan.

Selain membangun penginapan di desa-desa, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat juga akan menyediakan internet desa bagi sehingga warga memiliki banyak ide untuk mengembangkan kehidupan mereka.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!