Antrean layanan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Jombang. (Foto: KBR/ Muji Lestari)



KBR, Jombang – Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Jombang, Jawa Timur membuka layanan ekstra pengurusan Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) pada Sabtu dan Minggu. Kendati waktu pelayanan ditambah, masih ada ribuan warga yang mengantre. Pelayanan pengurusan e-KTP juga nyaris ricuh, diwarnai aksi saling dorong dan berdesakan.

Bahkan ada warga yang sudah mengantre sejak pukul 03.00 WIB dini hari. Namun, tetap saja masih ada sejumlah warga yang tak bisa mengurus e-KTP lantaran kehabisan kuota.

Salah satu warga, Ratna, mengaku kecewa dengan sistem pelayanan Pemerintah tersebut. Pasalnya, dirinya dan warga lain telah lebih dari sekali mendatangi Kantor Dinas Dukcapil namun selalu gagal karena pembatasan kuota.

"Jauh perjalanan dari rumah sekitar satu jam,tapi alatnya tidak ada katanya, dibatasi untuk KTP 250 orang dan KK 100 orang saja," ungkap Ratna di Jombang, Sabtu (3/9/2016).

Berdasarkan pantauan KBR, selain aksi desak-desakan di luar kantor, hal serupa juga terjadi di ruangan pengurusan e-KTP. Warga saling dorong untuk berebut nomor urut antrean yang disediakan petugas.

Baca juga:

Petugas Dinas Kependudukan Catatan Sipil tampak kewalahan mengendalikan antrean warga. Dinas Dukcapil hanya menerima pengurusan e-KTP sebanyak 250 orang perhari. Pembatasan ini karena minimnya jumlah petugas dan alat perekam e-KTP yang hanya enam buah.

Alhasil, kebijakan itu membuat sebagian warga setiap harinya harus rela pulang dengan tangan kosong. Padahal, sebelum 1 Oktober mendatang, warga harus sudah mengantongi e-KTP. Sebab jika tidak, mereka tak bisa menikmati layanan publik.

Atas kendala tersebut, Warga Jombang berharap, pengurusan e-KTP bisa menjangkau masing-masing desa agar proses mendapatkan kartu identitas ini tak sepelik saat ini.




Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!