Pangkalan Militer Kelar 3 Tahun, Panglima: Natuna Harga mati

"Itu kan wilayah kita, tidak bisa dinegosiasikan lagi. Sudah utuh dan harga mati."

Senin, 26 Sep 2016 17:30 WIB

Ilustrasi: Presiden Jokowi saat berkunjung di Natuna. (Foto: Setkab)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Purwokerto– Pembangunan pangkalan militer TNI di Kepulauan Natuna merupakan bentuk ketegasan pemerintah Indonesia untuk menjaga kadaulatan negara Indonesia di kawasan Asia Pasifik. Kata  Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Gatot Nurmantyo pembangunan  akan diselesaikan dalam waktu maksimal tiga tahun.

 Gatot menjelaskan, pembangunan pangkalan militer bertujuan untuk menjaga perbatasan wilayahnya dari intervensi dan pencurian sumber daya oleh negara lain.

 Gatot mengungkap, krisis perebutan wilayah di Laut China Selatan antara Tiongkok dengan beberapa negara di wilayah Asia Tenggara masih terus terjadi. Untuk itu, Indonesia yang memiliki beberapa bagian wilayah laut di kawasan tersebut mengantisipasinya dengan membangun pangkalan militer di Pulau Natuna.

 "Itu kan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang kita bangun di sana, pangkalan pesawat, pangkalan kapal, kemudian pangkalan angkatan darat. Sedang proses semua di sana. Pengerahan kekuatan (militer), sedang kita bangun di sana. Secara ideal dibangun dalam waktu 2 sampai 3 tahun. Itu kan wilayah kita, tidak bisa dinegosiasikan lagi. Sudah utuh dan harga mati." Tegas Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Gatot Nurmantyo di Banyumas Jawa Tengah, Senin (26/09).

 Lebih lanjut Panglima TNI GatotNurmantyo menjelaskan, Kepulauan Natuna memiliki potensi energi fosil yang cukup besar, yakni minyak bumi dan gas. Cadangan minyak bumi Pulau Natuna diperkirakan mencapai 1,4 juta barel, sedangkan gas bumi mencapai 112 juta barel.

 Gatot menambahkan, Kepulauan Natuna terletak di jalur pelayaran internasional, meliputi Hongkong, Jepang, Korea dan Taiwan. Kabupaten yang berada di Provinsi Kepulauan Riau tersebut berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Kamboja di bagian utara. Sedangkan, sebelah timur berbatasan dengan Singapura, Malaysia dan Riau. Untuk wilayah barat, berbatasan dengan Malaysia Timur dan Kalimantan Barat.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Permintaan atas produk laut Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor sangat besar tapi sayangnya belum dapat dipenuhi seluruhnya. Platform GROWPAL diharapkan dapat memberi jalan keluar.