Kondisi Museum Lokastithi Giribadra yang menyimpan benda -benda purbakal. Foto: Nurhikmah/KBR



KBR, Purbalingga - Museum Lokastithi Giribadra di Desa Cipaku, Purbalingga, Jawa Tengah, terlantar. Padahal di museum tersebut terdapat benda-benda purbakala dari zaman megalitikum seperti Batu Lingga-Yoni, Batu Kenong, Ganesha, dan situs-situs tulis lainnya.

Seorang juru rawat di Museum Lokastithi Giribadra, Haryadi mengatakan, kurang terawatnya museum purbakala ini disebabkan keterbatasan dana dan minimnya perhatian dari pemerintah. Kata dia, saat ini pun, pihaknya tidak prioritas merawat museum lantaran harus bertani demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Sumber pendapatan saya dari tani, sedangkan dari Dinbudparpora tiap bulan hanya dapat uang Rp105.000 itu pun diambil enam bulan sekali masih dipotong pajak. Yang membantu nyapu di sini, saya mengambil dari uang pribadi. Dan sekarang saya kurang fokus merawat ini, karena saya butuh hidup jadi harus mengurus pertanian saya,” jelasnya, kepada KBR (19/09/2016).

Dirinya berharap pemerintah Kabupaten Purbalingga mau memberikan perhatian lebih. Pasalnya perawatan dan pembangunan museum membutuhkan dana tidak sedikit. Saat ini pihaknya mengandalkan bantuan swadaya dari para pencinta benda purbakala.



Krisis Anggaran, Museum Tertua di Indonesia Pangkas Honor Pengelola

Kondisi serupa juga terjadi di Solo. Sudah sejak lama Museum Radya Pustaka di Solo Jawa Tengah mengalami krisis anggaran. Karena itu pengelola museum tertua di Indonesia itu terus melakukan pengetatan anggaran.

Juru bicara Komite Museum Radya Pustaka Solo, Purnomo Subagyo mengatakan penghematan dilakukan dengan memangkas gaji atau honor pengelola museum. Menurut Purnomo, pemangkasan honor mencapai lebih dari 40 persen demi keberlangsungan operasional museum.

"Berbagai cara kami lakukan agar museum terus dinikmati masyarakat. Gaji Komite yang biasanya Rp3 juta rupiah per bulan dipotong jadi Rp1,8 juta. Itu hampir 40 persen. Ada empat orang Komite Museum. Kemudian honor untuk Pembina Museum sebesar Rp1 juta rupiah per bulan, kita hapus. Tidak ada lagi honor untuk Pembina Museum. Kemudian berbagai kegiatan di museum, misalnya Pawukon, acara sambut bulan Suro, dan sebagainya yang jadi ajang promosi sudah tidak ada lagi. Tidak ada biaya untuk itu," kata Purnomo Subagyo.

Museum yang terletak di Jl Slamet Riyadi Surakarta itu sempat tutup sementara selama beberapa hari, pada 13-15 April 2016. Museum tutup karena tidak mampu membayar karyawan, sementara dana operasional semakin sedikit.

Karyawan museum meliputi perawat koleksi, pustakawan hingga pemandu wisata. Gaji atau honor bulanan untuk karyawan bahkan tidak bisa dibayarkan sejak Januari. Pemasukan dari tiket masuk juga tidak cukup untuk membayar tagihan listrik bulanan.

Krisis anggaran di Museum Radya Pustaka terjadi karena aturan kebijakan pemerintah pusat soal dana hibah. Dana hibah hanya boleh diberikan kepada lembaga yang sudah berbadan hukum. Sedangkan Museum Radyapustaka belum menjadi lembaga berbadan hukum.

Purnomo mengatakan pengelola sudah mengajukan anggaran senilai Rp400 juta ke pemerintah daerah untuk operasional museum. Dari jumlah itu yang disetujui hanya Rp300 juta rupiah untuk satu tahun. Dari jumlah Rp300 juta itu, setengahnya digunakan untuk gaji atau honor pegawai dan sebagian lagi untuk operasional museum.

Kebutuhan gaji untuk 12 karyawan per bulan sekitar Rp 17 juta. Sementara untuk listrik sekitar Rp4 juta dan perawatan museum Rp4 juta per bulan.

Setelah mendapat jaminan dana hibah dari Pemerintah Kota Solo, pengelola Museum Radya Pustaka kembali membuka operasional museum. Selama ini museum ini mengandalkan pendapatan atau pemasukan dari tiket masuk. Setiap bulan pemasukan dari tiket berkisar Rp1 juta hingga Rp3 juta rupiah per bulan.

Museum Radya Pustaka merupakan museum tertua di Indonesia. Museum ini didirikan pada 18 Oktober 1890, oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV, pepatih dalem pada masa pemerintahan Pakubuwono IX dan Pakubuwono X.

Baca juga:
130 Cagar Budaya Malang Belum Dilindungi Perda
Anggaran Dikurangi, Digitalisasi di Museum Radyapustaka Tak Berjalan





Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!