Longsor, Jalur Durenan-Prigi Lumpuh

Longsor di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menyebabkan jalur alternatf Durenan-Prigi tertutup total

Jumat, 16 Sep 2016 12:15 WIB

Longsor jalan nasional Durenan-Prigi, Trenggalek. Foto: Ridlo/KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Trenggalek - Longsor di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menyebabkan jalur alternatf Durenan-Prigi tertutup total. Pasalnya, material tanah longsor bercampur bebatuan besar menutup seluruh badan jalan. Kondisi tersebut, mengakibatka arus lalu lintas dari kedua arah terputus total.

Menurut salah seotang warga, Makani, longsor terjadi semalam pasca Kecamatan Watulimo diguyur hujan deras selama sehari penuh. Warga mengaku kesulitan untuk membuka akses jalan secara manual lantaran material batu yang terbawa longsor cukup besar.

"Jalur untuk ke wisata Prigi, ini jalur pintas, tertutup total ini. Tidak bisa untuk lewat. Jalur utama juga longsor di wilayah Jurug Bang," katanya, Jumat (16/9/2016).

Sementara itu, longsor yang terjadi di jalur utama pada ruas jalan nasional Durenan-Prigi, kondisinya juga cukup berbahaya. Badan jalan yang ambrol sepekan yang lalu kondisinya semakin parah. Bahkan hampir separuh badan jalan amblas terbawa tanah longsor.

Menurut Camat Watulimo, Wahyudianto mengatakan, meskipun kondisinya sangat berbahaya, pengendara sepeda motor dan mobil kecil masih diizinkan untuk melintas, dengan sistem buka tutup. Hal ini terpaksa dilakukan , karena tidak ada jalur lain yang bisa dimanfaatkan warga. Terlebih jalur tersebut merupakan akses utama ke 10 lokasi wisata serta ke Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi.

"Kendaraan yang besar, utamanya yang bermuatan tidak boleh melewati karena sangat membahayakan, bawah jurang dan atasnya tebing," kata Camat Watulimo, Wahyudianto.

Pemerintah daerah menargetkan, hari ini jalur alternatif Durenan-Prigi akan selesai dilakukan pembersihan dan bisa dilalui oleh seluruh kendaraan.

Baca juga:
Kajian Lingkungan Proyek Reklamasi Teluk Jakarta Rampung Bulan Ini
Seskab Pramono: Reklamasi Intinya Harus Tunggu Desain NCICD





Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.