Ilustrasi. Sejumlah anak SD di Bondowoso, Jawa Timur, sibuk membaca buku di halaman perpustakaan sekolah. (Foto: Friska Kalia/KBR)

KBR, Bondowoso – Sekitar seribu anak putus sekolah di Bondowoso Jawa Timur akhirnya bisa kembali ke bangku sekolah.

Anak-anak itu dikembalikan ke sekolah melalui program 'Gerakan Kembali ke Sekolah' yang digagas Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso.

Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Endang Hardiyanti mengatakan mayoritas anak yang dikembalikan ke sekolah adalah anak usia Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

"Ada beberapa anak yang berhenti dan kita sudah tarik kembali. Kita pelajari latar belakang kenapa berhenti sekolah, lalu kita cari solusinya. Kita mulai di tahun ajaran 2016 ini. Data terakhir ini sudah ada hampir seribu anak yang kita kembalikan ke sekolah," kata Endang Hardiyanti kepada KBR, Kamis (1/9/2016).

Dari pantauan Dinas Pendidikan di lapangan, ada beberapa faktor yang menjadi alasan mayoritas anak menjadi putus sekolah. Diantaranya faktor ekonomi, ketidak mampuan membayar biaya sekolah, faktor pernikahan di bawah umur hingga kendala geografis dimana jarak tempuh antara rumah dan sekolah terlalu jauh.

"Kami masih temukan banyak orang tua yang menikahkan anak mereka di usia dini tanpa berpikir bagaimana pendidikannya. Kami kerjasama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana ingin meminimalkan pernikahan anak," kata Endang Hardiyanti.

Angka rata-rata lama bersekolah di Bondowoso tergolong rendah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2015 menunjukkan, persentase penduduk yang berusia 10 tahun ke atas yang menamatkan pendidikannya setingkat SD/MI sebesar 30,97 persen, SLTP sebesar 9,75 persen sedangkan setingkat SMU/SMK dan Perguruan Tinggi masing-masing sebesar 9, 39 persen dan 2,73 persen.

Bagi mereka yang putus sekolah Dinas Pendidikan Bondowoso memberikan beberapa pilihan. Untuk siswa yang putus sekolah karena faktor ekonomi, Dinas Pendidikan menyediakan beasiswa bagi anak berprestasi yang bisa diajukan langsung ke Dinas Pendidikan. Selain itu Dinas Pendidikan meminta sekolah untuk mengajukan usulan untuk mendapat program Indonesia Pintar.

Untuk siswa yang lokasinya jauh dari sekolah, Dinas Pendidikan berupaya mendekatkan pelayanan pendidikan ke tempat mereka berada. Misalnya memindahkan ke sekolah yang lebih dekat.

Dinas Pendidikan juga bekerjasama dengan tenaga pendidik atau guru untuk mencegah ada anak yang berhenti sekolah karena pernikahan dini. Bahkan salah seorang guru asal Tamanan, Sri Wahyuni, mendapatkan Anugerah  Saparinah Sadli pada 24 Agustus lalu, atas usahanya secara sukarela melaksanakan penyuluhan kesehatan reproduksi dan pencegahan perkawinan anak.

Mayoritas anak – anak tersebut dimasukkan kembali ke sekolah negeri.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!