Hiu Tutul yang terdampar di pantai. (Ilustrasi/Antara)



KBR, Cilacap – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menyebut fenomena terdamparnya hiu tutul dan lumba-lumba pada akhir Agustus lalu terkait dengan pencemaran berat yang terjadi di perairan pantai selatan Cilacap.

Kepala BKSDA Jawa Tengah wilayah Konservasi II Cilacap, Rahmat Hidayat mengatakan, terdamparnya dua mamalia besar laut itu juga disebabkan kondisi alam berupa gelombang tinggi dan cuaca ekstrem yang terus menerus sepanjang Juli, Agustus hingga September ini.

Kata dia, pihaknya sudah menyosialisasikan agar perusahaan pembangkit listrik di Cilacap mencegah tercemarnya laut, baik berupa limbah sisa produksi maupun pada proses pengangkutan bahan baku.

Pasalnya, saat proses produksi masih ada pembuangan air sisa pendingin mesin Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang masih panas. Selain itu, banyak batubara dan minyak yang tumpah di sepanjang perairan Cilacap dari tongkang, tugboat dan tanker minyak, saat proses pengangkutan.

"Kalau kami BKSDA itu sebenarnya, kewenangannya belum ke arah sana. Kami ke lingkungan hidup. Karena, memang kalau kementerian itu sudah gabung, tapi kami belum ada tupoksinya ke sana. (Hiu tutul dan lumba-lumba terdampar apa ada kaitannya dengan pencemaran?) Kalau dugaan kami, bisa jadi. Dan juga karena gejala alam (gelombang tinggi)," kata Kepala BKSDA Jawa Tengah wilayah Konservasi II Cilacap, Rahmat Hidayat, Senin (9/5/2016).

Lebih lanjut Rahmat mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya pencegahan pencemaran yang terjadi di laut maupun darat. Antara lain dengan rutin menyosialisasikan dampak pencemaran yang bisa menurunkan kualitas ekosistem laut.

Rahmat menambahkan, BKSDA sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk mencegah dan mengurangi dampak pencemaran yang terjadi di laut.

Akhir Agustus lalu, dua mamalia laut yakni hiu tutul dan lumba-lumba terdampar di perairan Cilacap di tempat berbeda. Seekor lumba lumba ditemukan terdampar di Pantai Kemiren, Tegalkamulyan Cilacap dalam keadaan lemah dan terluka. Tetapi kemudian lumba-lumba ini  berhasil dikembalikan ke laut lepas.

Nasib berbeda dialami hiu tutul yang akhirnya mati kekurangan oksigen. Petugas dan nelayan kesulitan untuk mengembalikan hiu tutul ke laut karena bobotnya diperkirakan mencapai 1 ton.




Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!