Ilustrasi (Foto: Adhar/KBR)


KBR, Banyumas– Palang Merah Indonesia Kabupaten Banyums, Jawa Tengah menyebut, sekitar dua persen dari darah hasil donor, tak bisa digunakan. Kepala Unit Tranfusi Darah PMI setempat, Ivone menyatakan satu persen diantaranya karena pendonor mengidap penyakit Hepatitis B, Hepatitis C, Siphilis dan HIV AIDS. Kata dia, keempat jenis penyakit itu berbahaya karena bisa menular lewat tranfusi darah. 

"Kalau yang dari penyakit itu (yang tidak bisa digunakan) kira-kira satu persen. Tetapi tidak hanya HIV. Itu terdiri dari empat penyakit yang digabung menjadi satu. Misalnya itu hepatitis B, C, HIV dan siphilis. Pertama yang paling banyak itu didominasi oleh penyakit hepatitis B, kemudian yang kedua hepatitis C, kemudian siphilis dan paling kecil, terakhir HIV," ujarnya, Jumat (09/09/2016).

Ivone menambahkan satu persen lainnya gagal karena rusak, kadar hemoglobin rendah, kadar lemak tinggi atau sedang mengkonsumsi obat tertentu. Ivone menganjurkan, pendonor selalu mencek kesehatan secara berkala supaya jika terjangkit penyakit bisa terdeteksi sejak awal.

Lebih lanjut Ivone menjelaskan, PMI Banyumas tiap hari menarget sebanyak 500 kantong darah per hari. Sebab, hanya untuk rumah sakit di Kabupaten Banyumas saja membutuhkan kisaran 150 kantong per hari. Padahal, PMI Banyumas juga menyuplai untuk rumah sakit dan instalasi kesehatan di kabupaten tetangga, seperti Brebes, Purbalingga dan Cilacap.

Ivone menambahkan, kebutuhan tranfusi darah tertinggi terjadi saat ada wabah demam berdarah dan arus mudik dan balik Lebaran Idul Fitri, saat terjadi peningkatan angka kecelakaan.

Editor: Dimas Rizky 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!