Wisatawan menikmati suasana matahari terbit di Bukit Watu Payung, Desa Girisuko, Panggang, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Minggu (14/8). Foto: ANTARA



KBR, Banyumas – Warga Desa Melung Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, berhasil memaksa Perhutani untuk membatalkan penebangan kawasan hutan pangkuan Desa Melung seluas 380 hektar di Lereng Selatan Gunung Slamet.

Kepala Desa Melung, Khoerudin mengatakan, warga dan Pemerintah Desa Melung bersepakat mempertahankan hutan untuk melindungi habitat satwa liar, seperti Owa Jawa dan Elang Jawa.

Menurut Khoerudin, selain menjadi habitat satwa endemik Gunung Slamet, Hutan Melung juga berfungsi untuk menjamin ketersediaan air bagi ribuan warga Desa Melung dan sejumlah desa lain yang berada di sekitarnya, seperti Kalikesur dan Kalipagu.

Bagi Desa Melung sendiri, hutan ini juga berfungsi untuk meminimalisir potensi longsor. Sebab, desa tersebut berada persis di bawah lereng gunung yang amat curam.

"Kan pernah mengadakan penebangan. Tetapi ada macam-macam. Kami memperhatikan air dan mata air, ada Elang jawa, Owa jawa dan sebagainya. Kami memang melakukan keberaatan. Akhirnya Perhutani kan juga tidak melakukan penebangan. Karena salah satu alasan kita menolak itu kan untuk melindungi mata air, mencegah longsor, kemudian ada juga hewan atau satwa yang dilindungi." kata Kepala Desa Melung, Khoerudin, Senin (5/9/2016).

Khoerudin menjelaskan, Desa Melung juga melakukan kesepakatan dengan Perhutani, TNI, Polri dan sejumlah komunitas pecinta alam untuk menjaga kelestarian alam dengan bersama-sama melakukan gerakan anti perburuan satwa liar. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah dengan memasang papan larangan perburuan dan melakukan workshop mengenai hutan.

Sementara, Administratur Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Banyumas Timur, Wawan Triwibowo mengatakan pihaknya memiliki komitmen untuk menjaga hutan. Dia menjelaskan, hutan tidak hanya menjadi alat produksi melainkan memiliki fungsi konservasi.

Wawan jugamengimbau kepada masyarakat untuk bersama-sama memerangi perburuan satwa liar dan pencurian plasma nutfah lereng slamet.

Baca juga: Desa Melung, Menjaga Hutan Layaknya Keluarga




Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!