Ilustrasi: Kasus KTP Palsu di Surabaya. Barang bukti Kartu Tanda Penduduk (KTP) Asli (kiri) dan KTP palsu (kanan). (Foto: Antara)

KBR, Kupang - Bupati Kupang, Nusa Tenggara Timur Ayub Titu Eki memastikan, Kartu Tanda Penduduk (KTP) palsu temuan Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) NTT bukan terbitan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil setempat. Sebab kata dia, mustahil dinasnya memproses KTP yang jumlahnya ratusan sekaligus hanya untuk satu desa. Ia meyakini, KTP palsu itu dibuat oleh jaringan pemalsu kartu identitas.

"Saya bukan membela sekali lagi bahwa Kabupaten Kupang terlalu membludak. Kan dari satu desa itu keluar sampai 200 orang. Nah kalau 200 orang dari satu desa, logis atau tidak kalau 200. Habis masyarakat. Saya lihat itu," kata Ayub di Kupang, Sabtu (3/9/2016).

Sebelumnya, BP3TKI NTT menemukan, 90 persen KTP calon TKI asal Kupang palsu. Kartu identitas tersebut dibuat menyerupai KTP asli dengan format yang sama persis. Bupati Kupang, Ayub menduga, pemalsuan ini mudah dilakukan dengan bantuan teknologi. Sehingga tanda tangan kepala desa pun bisa ditiru.

"Yang mereka itu bisa jadi mereka scan itu apa, kepala desa punya tanda tangan, atau apa itu scan, semacam pemalsuan. Nah pemalsuan dokumen ini yang sebenarnya harus dikejar dan ditangkap," imbuhnya.

Itu sebab, ia meminta Kepolisian Kupang dan NTT segera mengungkap sindikat pemalsuan KTP dan menangkap pelakunya.

"Saya tidak membela, pasti ada kesalahan tetapi tidak sebesar yang sekarang diduga itu. Justru itu yang kita harapkan polisi bekerja lebih ini lagi untuk menangkap dan menghukum mereka begitu. Dia ambil orang dari luar, lalu kemudian bunyi dari Kabupaten Kupang," tegas Ayub.

Baca juga:

Hampir seluruh KTP calon TKI asal Kupang, palsu. Temuan ini diungkap oleh Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) NTT. Tak hanya calon buruh migran, bahkan kata Kepala BP3TKI NTT Tato Tirang, kepala cabang Perusahaan Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia atau PJTKI juga menggunakan KTP palsu.




Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!