Kondisi pantai Pulau Merah. Foto: Hermawan/KBR


KBR, Banyuwangi- Badan Lingkungan Hidup (BLH) Banyuwangi, Jawa Timur menyatakan lumpur yang menggenangi Pulau Merah pada bulan Agustus 2016 lalu tidak mengandung zat sianida. Hal itu sesuai hasil uji laboratorium di Universitas Jember.


Kepala BLH Banyuwangi, Khusnul Khotimah mengatakan, hasil uji laboratorium total suspended solid (TSS) atau padatan yang menyebabkan  kekeruhan air aman bagi lingkungan dan tidak mengandung sianida seperti yang diisukan selama ini. Sebab kata dia, PT Bumi Suksesindo selaku kuasa penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu  hingga saat ini belum beroperasi.

Namun meski begitu kata Khusnul,  PT BSI tetap diminta untuk bertanggung jawab terkait banjir Lumpur yang mencemari Pulau Merah dan kawasan Gunung Tumpang Pitu dan sekitaranya.

“PT BSI harus bertanggung jawab karena dia yang mengakibatkan semua itu dari kegiatanya. Walaupun hujan itu adalah alam tetapi didalam dokumen itu kan sudah di prediksi, sudah diprehitungkan semacam itu. Uji laboratoriumnya bagus makanya saya tidak rilis. Uji laboratoriumnya biasa–biasa saja normal, yang pasti TSS kekeruhan yang sangat tinggi karena memang tidak ada produksi sehingga tidak ada apapun,” kata Khusnul Khotimah (28/9/2016).

Baca: Pulau Merah Banjir Lumpur Lagi

Kepala Badan Lingkungan Hidup Banyuwangi Khusnul Khotimah menambahkan, Pemerintah Banyuwangi tetap memberi waktu 3 bulan kepada PT BSI  untuk merampungkan pembangunan dam. Selain itu, normalisasi sungai Katak juga harus terus dilakukan termasuk mengeruk lumpur yang ada di pantai Pulau Merah.

Kawasan wisata pantai Pulau Merah di Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur kembali dilanda banjir lumpur. Air  bercampur lumpur yang menggenangi Pulau merah tersebut berasal dari  Sungai Katak yang hulunya berada di kawasan Gunung Tumpang pitu.
 
Setelah di Guyur hujan sejak hari Minggu malam (25/9/2016)  air sungai tersebut meluap dengan membawa matrial lumpur berwarnah cokelat ke kawasan pantai Pulau Merah. saat ini air laut di kawasan wisata Pulau Merah  tercemar lumpur.


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!