Balai Karantina Sulut musnahkan bibit padi ilegal asal Cina. (Foto: KBR/Zulkifli M.)



KBR, Manado- Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Sulawesi Utara, Rabu (29/9) menggelar pemusnahan benih padi impor  ilegal dari Cina. Pasalnya benih itu  terkena hama penyakit atau bakteri dan virus berbahaya.

Kepala Balai Karantina Pertanian kelas 1 Sulut, Junaidi mengatakan, penyitaan berkat kerja sama dari pihak Bea Cukai, Angkasa Pura, serta Lembaga lainnya dalam memantau semua jenis barang pengiriman yang masuk melalui pelabuhan, bandara maupun lewat jalan darat ke Sulawesi Utara.

"Benih padi 30,1 Kg dari Cina saya berani  mengatakan saat ini Sulawesi Utara dalam keadaan bahaya kalau saja benih padi lolos dari pengawasan Beacukai dan instansi terkait. Karena benih padi dari cina ini memiliki virus bakteri yang tidak ada di Indonesia." Ujar Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Manado, Junaidi, Rabu (28/09).

Junaidi mengatakan, ada 40 kg jenis benih padi ilegal asal Cina yang disita, komoditi ini dimasukan ke Sulawesi Utara melalui Jasa PT Pos Indonesia cabang Manado. Paket pertama masuk   8 Juli 2016, sebanyak 20,6 Kg, berikut 24 Juli 2016 10,4 kg dengan penerima  Michael Usman Naga, alamat mini market Dembet Jaya, Desa Talawaan, Minahasa Utara.

Kata Junaidi, jenis hama penyakit yang terdapat pada benih padi asal Cina yang akan ditanam masyarakat Sulawesi Utara, mungkin muncul bakteri dan virus seperti Barley Stripe Mosaic hordivirus, Maize stripe tenuivirus, Rice black-streaked dwarf, Rice dwarf phytoreovirus, rice stripe tenuivirus. Bakteri serta  virus seperti ini sangat beresiko tinggi, karena tidak dapat dideteksi secara visual harus melalui uji laboratorium, jenis ini bersifat laten dan dapat menyebabkan wabah pada pertanian. Hama penyakit ini belum diketahui metode pengendaliannya.

Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!