Bea Cukai Tangkap Kapal Bermuatan 30 Ton Bahan Peledak Dari Malaysia

Modus penyelundupan dengan cara menyamarkan amonium nitrat dengan kemasan pupuk.

Kamis, 22 Sep 2016 10:16 WIB

Petugas Bea Cukai sedang memindahkan amonium nitrat ke tempat penyimpanan. Foto: Yulius Martony/KBR

KBR, Bali- Kapal patroli Bea Cukai menangkap kapal KM Alam Indah yang membawa bahan peledak sekitar 30 ton dari Malaysia menuju Sulawesi pada Selasa (20/9) malam. Kepala Bidang Penindakan Penyidikan Kanwil Bea Cukai Bali Nusa Tenggara Barat (NTB), Husni Syaiful mengatakan, tidak ada perlawanan dari awak kapal saat mereka ditangkap di sebelah utara Pulau Bali. 

Menurutnya, lokasi yang memiliki jarak tempuh sekitar tujuh jam dari Pelabuhan Padang Bai, Karangasem tidak umum dipakai pelayaran. Selain itu, kapal juga tidak memiliki izin masuk dari luar negeri. 

"Amonium nitrat ini dari Malaysia yang rencana akan di bawa ke Sulawesi namun sebelum sampai sana sudah dilakukan pencegahan oleh tim bea cukai terkait ada info membawa amonium nitrat ini," jelasnya.

Husni Syaiful menambahkan modus penyelundupan dengan cara menyamarkan amonium nitrat dengan kemasan pupuk. Selain itu, anak buah kapal (ABK) juga sudah membuang sekitar 200-300 karung ke laut agar tidak tenggelam.

Amonium nitrat termasuk bahak peledak berdaya ledak tinggi bersenyawa tunggal. Bahan ledak ini biasanya digunakan sebagai bahan baku untuk membuat bom ikan.

"Kalau untuk Indonesia timur bisa untuk bom ikan, bahan peledak tambang atau untuk bom teroris," tambah Husni Syaiful.

Berita lain: Kesimpulan Sementara, Dirnarkoba Bali Bersalah Peras Bandar Narkoba


Editor: Sasmito

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.