Tak Laku di Pasaran, Bulog Beli Gula Petani di Cirebon

Petani pasrah meski harga yang ditetapkan Bulog rendah.

Rabu, 23 Agus 2017 22:44 WIB

Gula milik petani di Cirebon yang disegel Kemendag dan mengendap di Pabrik Gula Sindangkaut. (Foto: KBR/Frans Mokalu)

KBR, Cirebon- Gula milik petani yang disegel Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan (Kemendag) di sejumlah pabrik gula di Cirebon, bakal dibeli Bulog. Saat ini tercatat gula yang mengendap di pabrik gula Sindang Laut sebanyak 7.700 ton dan di pabrik gula Tersana Baru lebih dari 10.000 ton. Belasan ribu ton gula itu mengendap selama kurang lebih tiga bulan karena tidak laku di pasaran. Para pedagang enggan membeli gula petani dengan adanya penerapan PPN 10% untuk gula tebu.

Wakil Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Barat, Agus Safari  mengatakan, sesuai hasil rapat kordinasi terbatas dengan pemerintah pekan lalu, gula milik petani yang tidak bisa dijual melalui pasar terbuka akan dibeli oleh Perum Bulog dengan harga Rp 9.700/Kg. Itu pun harus memenuhi standar yang ditentukan.

“Dengan catatan gulanya harus berstandar SNI yakni kebersihan gula atai nilai ikumsanya maksimal 200 untuk gula kristal putih 1,” katanya, Rabu (23/08/2017).

Untuk memastikan dapat dibeli Bulog, sampel gula itu kini tengah diuji di laboratorium Kementerian Perdagangan. Jika tidak memenuhi standar SNI maka akan dilakukan pemrosesan ulang.

“Hasil labnya keluar paling lambat minggu depan. Kalau tidak memenuhi SNI gula milik petani dibeli pabrik gula atau diproses ulang,” ungkapnya.

Meskipun harga yang ditawarkan tidak memuaskan petani, namun pihaknya tidak punya pilihan lain. “Kita berharap harganya Rp 10.500/Kg, tapi kami tidak punya pilihan lain, karena pedagang tidak mau beli gula petani,” katanya.

Para petani masih berharap ada yang membeli gula mereka di atas harga yang telah ditetapkan Bulog. “Kalau ada yang mau beli di atas harga Bulog, silakan diperbolehkan. Tapi sampai saat ini belum ada,” tuturnya.

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.