Ribuan Ton Beras Menghilang dari Gudang Bulog Semarang

Sampai kini belum diketahui keberadaan 6.000 ton beras tersebut, apakah dijual atau diselewengkan untuk kepentingan lain. Kejaksaan menegaskan seharusnya ribuan ton beras itu masih berada di gudang.

Rabu, 23 Agus 2017 14:51 WIB

Ilustrasi. (Foto: ANTARA/Irwansyah Putra)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Semarang - Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah menyelidiki dugaan hilangnya 6.000 ton beras di Gudang Bulog Randugarut Sub Divisi Regional I Semarang.

Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah Jacob Hendrik Pattipeilohy megatakan kejaksaan mendapat laporan dari masyarakat mengenai hilangnya beras di gudang Bulog. Kejati lalu mengirim penyidik pidana khusus untuk mengecek gudang Bulog.

Dari pemeriksaan di lapangan, kata Jacob Hendrik, ternyata ada dugaan beras dikeluarkan tanpa prosedur. Penyidik Kejaksaan menemukan adanya penyimpangan penyusunan beras di gudang.

Di gudang tersebut, karung beras disusun supaya terkesan penuh dan tinggi. Saat diperiksa, ternyata di bagian tengah tumpukan beras terdapat rongga alias kosong tidak ada karung beras.

Jacob Hendrik mengatakan dalam kurun waktu satu tahun, sejak Juni 2016 hingga Juni 2017, diduga terdapat proses pemindahan beras ke luar gudang oleh pegawai Bulog. Diduga pegawai bekerjasama dengan pihak luar.

"Diperkirakan dugaan kerugian negara kurang lebih Rp6 miliar," kata Jacob kepada KBR di Kantor Kejati Jawa Tengah, Selasa (22/8/2017).

Sampai saat ini belum diketahui keberadaan 6.000 ton beras tersebut, apakah dijual atau diselewengkan untuk kepentingan lain. Kejaksaan menegaskan seharusnya ribuan ton beras itu saat ini masih berada di dalam gudang.

Kejaksaan Tinggi sudah memeriksa lima orang saksi, namun belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh

KKP Gagal Capai Target Ekspor Ikan

  • HRW Usulkan 4 Isu Jadi Prioritas Dialog Jakarta Papua
  • Terduga TBC di Medan Capai Seribu Orang
  • Dalai Lama Luncurkan Aplikasi

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi