Populasi Turun, Pemkab Nunukan Wajibkan Kerbau di Krayan Bunting

"Kalau populasi ternak kerbau meningkat, maka organiknya meningkat juga, kita gunakan kerbau untuk menginjak nginjak, kotoran kerbau itulah sebagai organiknya,”

Senin, 21 Agus 2017 10:26 WIB

Kerbau di Krayan Nunukan, Kaltara. (Foto: KBR/Adhima S.)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Nunukan–Pemerintah Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara mewajibkan kerbau di wilayah perbatasan Kecamatan Krayan bunting melalui program Upaya Khusus Sapi Kerbau Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab). Hal ini dilakukan untuk menjaga populasi kerbau sawah Krayan yang terus menurun.  Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nunukan Muhammad Kholiq mengatakan,  populasi kerbau Krayan saat ini tinggal 3000 ekor, padahal dari pendataan dinas peternakan kabupaten Nunukan tahun 2015 masih mencatat 5000 ekor.

“Memang ada penurunan, karena penurunan itu diperkirakan mereka ini kan hari-hari besar pasti  dipotong atau dijual. Kedua pada saat anaknya kuliah pasti  kita jual itu.” Ujar Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nunukan Muhammad Kholiq, Senin (21/08/2017).

Muhammad Kholiq menambahkan, upaya peningkatan populasi kerbau sawah di Krayan juga dilakukan untuk menjaga produktifitas padi organik Krayan atau padi adan. Masyarakat di kecamatan Krayan mengandalkan ternak kerbau untuk proses penyiapan lahan sawah. Sdangkan   kotoran kerbau juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik sebelum sawah ditanami padi adan. Turunnya populasi kerbau juga membuat luasan sawah yang digarap oleh warga ikut menurun.

“Sekarang ini lahan sawah kita ada 3500 hektare, yang ditanami 3.300. Jadi kalau populasi ternak kerbau meningkat, maka organiknya meningkat juga, kita gunakan kerbau untuk menginjak nginjak, kotoran kerbau itulah sebagai organiknya,” imbuhnya.

Melalui program peningkatan populasi kerbau sawah krayan hasil padi organik di Kecamatan Krayan diharapkan bisa meningkat dari 2 ton per hektare meningkat menjadi 3,5 hingga 4 ton.

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sedang melaksanakan Program Penguatan Reformasi Kepabeanan dan Cukai (PRKC). Program ini sudah dimulai sejak Desember 2016 hingga saat ini.