Pengungsi Ahmadiyah NTB: Kami Belum Merasakan Merdeka Sepenuhnya

Para pengungsi jemat Ahmadiyah itu juga tidak mendapatkan berbagai program sosial dari pemerintah, seperti beras sejahtera (Rastra), jaminan kesehatan (BPJS Kesehatan) maupun gas elpiji bersubsidi.

Rabu, 16 Agus 2017 23:29 WIB

Tempat pengungsian jemaat Ahmadiyah di Transito, Mataram, NTB. (Foto: Situs Ahmadiyah.org)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Mataram - Tahun ini menjadi tahun ke-11 bagi para jemaat Ahmadiyah Lombok memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) RI di tempat pengungsian di Asrama Transito, Kelurahan Majeluk, Kota Mataram.

Mereka menempati tempat pengungsian itu sejak tahun 2006 silam setelah merea diusir dari kampung halaman. Sampai sekarang ini, belum jelas kapan mereka bisa kembali ke kampung halaman mereka.

Ketua RT Jemaat Ahmadiyah Transito Mataram, Syahidin mengatakan para jemaat Ahmadiyah belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan layaknya warga Indonesia lainnya.

"Kami belum merdeka sepenuhnya seperti warga negara Indonesia pada umumnya. Memang begitu adanya. Kami belum dikasih bebas. Seperti pidato Presiden tentang Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, supaya kita sama-sama membangun Indonesia. Jangan kita saling duga-menduga, jangan fitnah-memfitnah," kata Syahidin di tempat pengungsian, kepada KBR, Rabu (16/8/2017).

Jumlah jemaat Ahmadiyah di pengusian itu saat ini sekitar 200 orang. Sebagian diantaranya sudah keluar dan tinggal di tempat lain.

Jemaat yang masih tinggal di tempat pengungsian itu menyambut HUT RI pada Kamis, 17 Agustus 2017 ini dengan berbagai mata lomba untuk anak-anak seperti lomba lari karung dan lomba makan kerupuk.

Syahidin mengatakan para jemaat Ahmadiah di pengungsian Transito beberapa tahun lalu sudah mencoba kembali ke kampung halamannya, baik di Lombok Barat maupun di Kabupaten Lombok Timur.

Namun, mereka selalu ditolak masyarakat setempat. Rumah yang telah dibangun dirusak beserta berbagai fasilitasnya. Mereka pun kembali terusir dan kembali ke tempat pengungsian.

Para pengungsi jemat Ahmadiyah itu juga tidak mendapatkan berbagai program sosial dari pemerintah, seperti beras sejahtera (Rastra), jaminan kesehatan (BPJS Kesehatan) maupun gas elpiji bersubsidi. Syahidin mengatakan para jemaat Ahmadiyah merasa terasing di negera sendiri.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Ombudsman Sebut Ada Indikasi Maladministrasi Dalam Kecelakaan Kerja Konstruksi

  • KPU Tegaskan Akan Berikan Sanksi Bagi Parpol yang Pakai Gambar Presiden
  • Petani Garam Jatim Akan Layangkan Surat Protes ke Jokowi

Di Indonesia jumlah penduduknya adalah 250 juta penduduk dengan investor atau investasi di pasar modal adalah 1 juta orang saja yang berinvestasi.