Pailit, Ribuan Buruh Jamu Nyonya Meneer Tagih Hak

"Sampai detik ini, kami dari pihak karyawan itu belum mendapatkan hak-hak kami. Ini kami sebetulnya mau mengajukan ke kurator,"

Senin, 07 Agus 2017 11:32 WIB

Jamu produk Njonja Meneer. (Sumber: Situs Njonja Meneer)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Semarang- Ribuan buruh  PT Nyonya Meneer  menunggu hak mereka dipenuhi. Kuasa Hukum Buruh PT Nyonya Meneer, Yetty Any Ethika mengatakan saat ini pihaknya akan menghubungi kurator yang memahami jumlah aset yang akan dilelang. Selain itu, Kurator ini nantinya akan mendata, dari 1300 karyawan yang ada, siapa saja yang akan dibayarkan haknya.

"Sampai detik ini, kami dari pihak karyawan itu belum mendapatkan hak-hak kami. Ini kami sebetulnya mau mengajukan ke kurator," ujar Yetty saat dihubungi KBR, Senin (07/08) pagi.

Sementara itu, kuasa hukum PT Nyonya Meneer, La Ode Kudus menyampaikan  belum dapat memutuskan langkah hukum selanjutnya pasca dinyatakan pailit.

"Gini mbak, untuk itu mungkin setelah hari Kamis baru hubungi saya. Soalnya hari ini saya lagi proses pengajuan kuas," ungkap La Ode saat dihubungi KB.



Sementara itu kuasa hukum kreditur dari PT Nyonya Meneer, Eka Widhiarto menyatakan  keputusan sidang pada Kamis (03/08) lalu merupakan keputusan final.

"Kalau kasasi kan tidak ada upaya hukum mbak. Kalau pailit karena PKPU. Kalau pailit berakhir karena PKPU, ini keputusan sudah final," ujar Eka.

Sebelumnya, pada Kamis, 3 Agustus 2017 lalu perusahaan jamu legendaris PT Nyonya Meneer dinyatakan pailit oleh hakim Pengadilan Niaga Kota Semarang. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1919 tersebut pailit setelah digugat oleh kreditur asal Sukoharjo, Hendrianto Bambang Santoso setelah PT Nyonya Meneer tidak dapat menyelesaikan pembayaran hutang sesuai proposal perdamaian sebesar Rp 7,04 miliar.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.