Lahan Menyempit, Nasib Ribuan Petani Penggarap di Mataram Terancam

"Kalau tidak kita antisipasi sekarang ya bakal kehilangan pekerjaan. Kalau mempertahankan lahan, masalahnya itu punya pengusaha. Petani hanya penggarap, tidak milik sendiri."

Kamis, 03 Agus 2017 15:48 WIB

Ilustrasi lahan pertanian di NTB. (Foto: bpmpd.ntbprov.go.id/Publik Domain)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Mataram - Ribuan petani di Kota Mataram Nusa Tenggara Timur terancam kehilangan mata pencaharian, karena lahan pertanian di kota itu semakin menyempit.

Dinas Pertanian Kota Mataram memperkirakan lahan pertanian di wilayah itu hanya tersisa ratusan hektar saja pada 2031 mendatang, dari luas saat ini sekitar 1.973 hektar. Namun, rata-rata lahan itu milik pengusaha. Sedangkan petani hanya mencari nafkah di lahan pertanian itu sebagai penggarap.

Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Mutawalli mengatakan kondisi itu mengancam nasib petani di Kota Mataram yang saat ini berjumlah sekitar 4.935 orang.

Mutawalli mengatakan nasib petani penggarap itu harus diperjuangkan. Salah satu caranya dengan memberikan pembinaan untuk mengembangkan pertanian dengan teknologi terapan seperti pengembangan hidroponik.

"Kalau tidak kita antisipasi sekarang ya bakal kehilangan pekerjaan. Kalau mempertahankan lahan, masalahnya itu punya pengusaha. Petani hanya penggarap, tidak milik sendiri. Ini harus kita selamatkan, karena mereka tidak serta-merta bisa pindah ke sektor jasa. Belum tentu diterima karena butuh keterampilan dan sebagainya. Maka biarkan saja. Salah satunya mungkin nanti akan diadakan pelatihan rutin. Boleh saja sawahnya hilang atau berkurang, tapi nanti alih teknologi", kata Mutawalli di Mataram, Kamis (3/8/2017).

Mutawalli menjelaskan sebelumnya Dinas Pertanian telah berupaya mempertahankan lahan produktif di kota Mataram seluas 1.300-an hektar sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Namun, ternyata DPRD hanya menyepakati luas lahan produktif LP2B seluas 700 hektar saja.

Data Dinas Pertanian Kota Mataram memperlihatkan luas lahan pertanian produktif di Kota Mataram terus menyempit. Setiap tahun, lahan pertanian ini berkurang antara 55 hingga 75 hektar.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan

  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

Moratorium Reklamasi, Menteri Siti : Pulau C dan D Kurang Satu Syarat, Pulau G Dua Syarat

  • Adik Bos First Travel Ikut Jadi Tersangka
  • Penembakan Deiyai, Tujuh Anggota Brimob dan Kapolsek Akan Jalani Sidang Etik Pekan Depan
  • Tuntut Pembatalan Perppu Ormas, Ratusan Orang Demo DPRD Sumut

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR