Pantai Pulau Merah kecoklatan akibat lumpur gunung Tumpang Pitu. (Foto: KBR/Hermawan)



KBR, Banyuwangi- Ratusan Nelayan Pancer, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi Jawa Timur, selama sepekan lebih tidak bisa melaut. Sebab kondisi laut di wilayah pesisir pancer  tercemar lumpur dari Gunung Tumpang Pitu.

Ketua Rukun Nelayan Pancer Khusni Tamrin mengatakan, saat  ini para nelayan  berhenti melaut, karena hasil tangkapan ikan menurun drastis. Sepinya tangkapan ikan ini kata dia, dipengaruhi karena tercemarnya laut oleh banjir lumpur yang pekan lalu membanjiri wisata Pulau Merah.

Menurut Khusni, banyaknya lumpur yang masuk ke dalam laut, mengakibatkan terumbu karang di perairan pancer menjadi rusak parah. Hal itu mengakibatkan ikan  di wilayah tersebut lari ke tengah laut. Khusni mengatakan, para nelayan di Pelabuhan Pancer merasa resah dengan kondisi seperti ini. Sebab dikwatirkan ke depan   akan mengalami kejadian yang lebih parah lagi.


“Laut ini kan ring kehidupan terutama masyarakat nelayan. Permintaan teman-teman dengan adanya lumpur ini sudah masuk ke laut, teman-teman minta BSI ditutup. Dari penghasilan teman-teman yang sekarang ini turun, dari ikan pancingan yang sekarang sudah tidak ada lagipula selama ini kami sudah tidak melaut karena ada dampak dari PT BSI ini,” kata Khusni Tamrin, Rabu  (24/8/2016).

Ketua Rukun Nelayan Pancer Banyuwangi Khusni Tamrin meminta Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Gubernur Jawa Timur dan Presiden Joko Widodo, untuk mencabut izin pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu. alasannya, banjir lumpur yang mencemari peisir Pancer itu akibat aktifitas pembukaan lahan dan pembangunan infrastuktur tambang yang dilakukan oleh PT Bumi Suksesindo (BSI).

Sebelumnya, tingginya intensitas hujan dalam sepekan terakhir menyebabkan sejumlah sungai di sekitar Gunung Tumpang Pitu Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, meluap. Juru Bicara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, Eka Muharram, mengatakan, air sungai yang meluap kemudian membawa lumpur ke pantai Pulau Merah.

Eka menjelaskan, lumpur berasal dari luapan sungai Katak yang menggerus bukit gundul di kawasan Gunung Tumpang Pitu. Bukit tersebut saat ini dibangun untuk kawasan pertambangan emas. Luapan lumpur juga datang dari sungai di sisi pantai. Akibatnya, Pantai Pulau Merah yang berpasir putih bersih, kini terlihat kotor tertutup lumpur.


Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!