Ilustrasi: Permendikbud tentang pendidikan bagi penghayat.



KBR, Cilacap– Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah menyebut tiga kendala utama untuk membuka kelas pelajaran kepercayaan. Sekretaris MKLI Cilacap, Muslam Hadiwiguna Putra mengatakan tiga kendala tersebut berasal dari orang tua siswa, pihak sekolah dan dinas pendidikan setempat.

Menurut Muslam, hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi Dinas Pendidkan mengenai Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 27 Tahun 2016, tentang  Layanan Pendidikan Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa pada Satuan Pendidikan. Di situ disebut bahwa, siswa berhak mendapat pelayanan pelajaran sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Dan MLKI, kata Muslam, ditunjuk secara resmi sebagai penyedia tenaga pengajarnya.
 
Ia mencontohkan, di SMPN 1 dan SMPN2 Adipala, sebenarnya ada 10 dan 11 anak  penghayat kepercayaan. Namun, lantaran tidak ada koordinasi orangtua dengan pihak sekolah, dan sekolah dengan dinas, yang mendapat pelajaran kepercayaan hanya empat anak.
 
Namun, ia berjanji tahun ini akan mencoba melakukan sosialisasi lebih intensif kepada orangtua penghayat kepercayaan dan kalangan dinas pendidikan. Dengan begitu tidak ada kasus seperti ini lagi.

"Kendala atau tantangan di daerah itu bermacam-macam. Mulai dari orang tua, pihak sekolah dan pihak dinas pendidikan. Jadi karena kurangnya kami sosialisasi. Jadi di dinas belum ada regulasi yang harus dilaksanakan. (Di SMPN 1 Adipala) ada 10 anak kemudian di SMPN 2 ada 11 anak (penghayat kepercayaan). Tetapi karena ada surat pernyataan antara anak dengan orang tua harus klop, harus ada pernyataan bahwa si anak bukan penganut agama melainkan penghayat kepercayaan, akhirnya  yang terealisasi sekarang hanya empat anak." Ujar Sekretari s MKLI Cilacap, Muslam Hadiwiguna Putra.

Lebih lanjut, Muslam menambahkan, kendala membuka kelas pelajaran kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa di Cilacap lainnya adalah sumber daya pengajar yang minim. MLKI, kata Muslam, sebenarnya mempersiapkan 10 tenaga pengajar. Namun, dengan berbagai alasan, baru ada enam pengajar yang aktif.

Salah satunya adalah kendala jarak tempuh antara rumah pengajar dengan sekolah yang membuka kelas pelajaran kepercayaan. Sebab, 13 sekolah yang membuka kelas pelajaran kepercayaan tersebar di delapan Kecamatan, mulai dari Cilacap Barat hingga Cilacap Timur. Di 13 sekolah ini terdapat 25 siswa yang mengikuti pelajaran kepercayaan. Jarak antar sekolah di Cilacap barat dengan timur mencapai lebih dari 100 kilometer.

 

Editor: Rony Sitanggang

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!