Sidang Pra Peradilan, Pengacara Obby Kogoya Minta Status Tersangka Dicabut

Pengadilan Negeri Sleman, menggelar sidang pra peradilan Obby Kogoya, mahasiswa asal Papua yg ditetapkan sebagai tersangka dalam insiden pengepungan di asrama Papua Kamasan, pertengahan Juli lalu.

Senin, 22 Agus 2016 11:27 WIB

Polisi berjaga di depan kantor Pengadilan Negeri Sleman. Di PN Sleman tengah berlangsung sidang perdana pra peradilan Obby Kogoya. Foto: Eka Juniari/KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Yogyakarta - Pengadilan Negeri Sleman, menggelar sidang pra peradilan Obby Kogoya, mahasiswa asal Papua yg ditetapkan sebagai tersangka dalam insiden pengepungan di asrama Papua Kamasan, pertengahan Juli lalu. Sidang pra peradilan digelar hari ini (22/8/2016).

Emanuel Gobay, pengacara Obby Kogoya mengatakan, agenda sidang adalah pembacaan permohonan pra peradilan. Dalam gugatan tersebut, pihaknya menyebut penangkapan dan penahanan kliennya dilakukan secara semena-mena. Karenanya, kuasa hukum menuntut Kepolisian mencabut status tersangka atas Obby.

"Klien kami adalah korban, sehingga penetapan status tersangka atas Obby adalah potret kriminalisasi," kata Emanuel Gobay, di Pengadilan Negeri Sleman, Senin (22/8/2016).

Menurut Gobay penetapan tersangka atas Obby tidak didahului dengan pemeriksaan. Selain tidak didukung dua alat bukti sesuai yang diatur pasal 184 KUHP, penangkapan Obby juga dinilai tidak sesuai prosedur.

"Polisi menetapkan Obby sebagai tersangka karena membawa panah. Padahal tidak," lanjut kuasa hukum LBH Yogyakarta tersebut.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta mengajukan gugatan pra peradilan di Pengadilan Negeri Sleman menyusul upaya kriminalisasi atas Obby Kogoya dalam insiden dengan polisi di asrama Papua Kamasan 15 Juli 2016 lalu.

Pada Juli lalu, Obby Kogoya ditangkap bersama tujuh mahasiswa Papua lainnya saat polisi mengepung asrama mereka. Tujuh mahasiswa lain telah dibebaskan namun menurut Juru Bicara Polda Papua Anny Pudjiastuti, Obby ditahan karena membawa panah. Aksi tersebut kata Anny, bisa melukai polisi. Dua polisi diklaim terluka dalam pengepungan itu.

Namun Ketua Asrama Papua di Yogyakarta, Roy Karoba membantah jika Obby disebut melakukan tindakan anarkis. Sebab, Obi memukul sebagai reflek mempertahankan diri.

Polda DIY mengepung asrama mahasiswa Papua pekan lalu ketika mahasiswa Papua akan berunjuk rasa. Mereka hendak mendukung Gerakan Pembebasan Papua Barat (ULMWP) jadi anggota tetap Melanesian Spearhead Group (MSG).



Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

DPR Sahkan UU Pemilu, Jokowi : Sistem Demokrasi Berjalan Baik

  • Gerindra Yakin MK Batalkan Pasal Pencalonan Presiden di UU Pemilu
  • UU Pemilu Untungkan Jokowi
  • Hampir Empat Bulan, Jadup Banjir Aceh Tenggara Belum Cair

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.