Ribuan massa aksi tolak reklamasi duduki gedung DPRD Bali. Foto: Yulius Martoni/KBR

KBR, Bali - Seribuan massa memadati lapangan DPRD Bali menolak reklamasi Teluk Benoa. Aksi dimulai dari parkir timur lapangan Renon dilanjutkan dengan melakukan longmarch menuju gedung DPRD Bali.

Dalam aksinya, massa melakukan orasi dari sejumlah desa adat di Bali. Sejumlah perwakilan desa adat mengatakan, yang diperlukan Bali adalah pemerataan pembangunan. Pasalnya, saat ini pembangunan hanya berpusat di Bali Selatan sementara Singaraja, Karang Asem dan Buleleng tidak berjalan maksimal.

Dalam pernyataan sikapnya, For Bali meminta DPRD Bali merekomendasikan kepada presiden agar membatalkan Perpres Reklamasi Teluk Benoa dan mengembalikan kawasan Teluk Benoa menjadi kawasan konservasi. Mereka juga meminta semua pihak menghargai dan menghormati hak-hak masyarakat adat terhadap pesisir kawasan Teluk Benoa.

"Menyatakan ini murni gerakan rakyat Bali untuk mempertahankan kelestarian pesisir Teluk Benoa dan masyarakat Bali menyatakan dukungan terhadap desa adat Bali di tengah tidak ada dukungan dari pemerintah daerah", ujar Koordinator For Bali, Wayan Gendo, Kamis (25/8/2016).

Massa juga meminta gubernur Bali agar bersurat kepada presiden membatalkan reklamasi Teluk Benoa sebagai pertanggungan politik.

Sementara itu, Koordinator For Bali, Wayan Gendo menyatakan tidak pernah berbuat rasis seperti yang dilaporkan LSM Pospera. Kata dia, kriminalisasi atas dirinya tidak akan mengurangi semangat menolak reklamasi. Ia mengaku, sudah 176 Kuasa hukum akan mendampinginya.

Dalam aksi, massa memasang bendera berukuran besar di gedung DPRD Bali.




Editor: Quinawaty
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!