Ilustrasi: Kerusuhan. (Foto: Antara)



KBR, Jakarta - Divisi Profesi dan Pengamanan Internal Polri terus mendalami ada tidaknya kesalahan prosedur dalam penangkapan dan penembakan pelaku pembunuhan polisi, Apri Adi Pratama. Sebab hal inilah, yang menurut Juru Bicara Polda Riau Guntur Aryo Tejo, menjadi pemicu kemarahan warga Meranti hingga berujung penggerudukan ke Polres Meranti, Riau.

"Karena, masyarakat itu kan tidak percaya supaya ada kepastian dan memang itu adalah tugas pokoknya dari pada pengamanan internal Polri, Provost, Paminal Polri itu untuk mengecek apakah betul itu sesuai prosedur atau mungkin ada kesalahan prosedur, kalau memang ada ditemukan ya tentu diambil tindakan yang sudah diatur UU Kepolisian," jelas Juru bicara Polda Riau Guntur Aryo Tejo kepada KBR, Sabtu (27/8/2016).

Itu sebab, kini timnya tengah meminta keterangan personil yang ikut dalam penangkapan Adi.

Apri Adi Pratama, adalah tersangka kasus pembunuhan polisi Meranti, Adil Tambunan. Warga menuding, tewasnya Adi lantaran kesalahan prosedur penangkapan oleh polisi Meranti. Kemarahan tersebut diikuti aksi ratusan warga Selatpanjang, Kepulauan Meranti menggeruduk Kantor Polres Meranti.

Juru Bicara Polda Riau, Guntur Aryo Tejo menambahkan, fokus polisi saat ini adalah mengembalikan rasa aman warga sekitar pasca penyerangan Mapolres Meranti.

"Sudah kondusif semuanya, kemarin sudah ada pertemuan-pertemuan dengan semua tokoh. Kapolda Riau juga sudah ada di sana. Belum ada hasil pemeriksaan Propam, tunggu fix semua," ujarnya.


Belum Ada Info Pencopotan Kapolres

Sementara terkait beredarnya rencana pencopotan Kapolres Meranti Asep Iskandar, Guntur belum dapat memastikan informasi tersebut. " Belum tahu, ada pencopotan, saya sudah cek ke divisi SDM Polda Riau belum ada. Pencopotan dan mutasi itu hal yang biasa di Polri," katanya.

Sebelumnya, kantor Mapolres dirusak dan dilempari batu dan kayu oleh massa. Massa protes pasca tewasnya Apri Adi Pratama yang disangka menjadi pembunuh anggota Polisi Polres Meranti, Adil S. Tambunan. Warga menuding ada kesalahan prosedur dalam penangkapan Adi. Dalam aksi massa itu, satu warga dilaporkan tewas. Polisi mengklaim, tewasnya seorang warga itu lantaran terkena lemparan batu dan kayu dari masyarakat.

Atas kerusuhan ini, beredar informasi pencopotan Kapolres Meranti Asep Iskandar. Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengapresiasi rencana tersebut. Melalui keterangan tertulis yang diterima KBR, Koordinator Kontras Haris Azhar mengatakan, pencopotan saja tak cukup. Polisi, kata dia, harus mengusut penyiksaan dan kematian yg diduga dari tembakan personil polisi di tengah kerusuhan di Meranti.

"Kekacauan yang terjadi haruslah direspon dengan penegakan hukum," tulis Haris melalui keterangan tertulis.

"Kami dari Kontras meminta agar pihak Polda atau Polres untuk tidak melakukan rayuan, ajakan, tekanan atau apapun bentuknya, kepada korban, kelurga korban ataupun saksi atas peristiwa rusuh di Meranti 2-3 hari lalu," ungkapnya.

Itu sebab, Hari melanjutkan, diperlukan peran masayarakat Meranti dari berbagai lapisan untuk mengawal kerja Polda Riau dalam melakukan penegakan hukum atas kasus kerusuhan di Meranti.

"Kita patut memberikan target, paling tidak dalam 1x24 jam sudah hrus dilakukan penyidikan atas pembunuhan terhadap masyarakat Meranti. Jika sampai tidak dilakukan, kita patut waspada dan cemas bahwa hukum akan dimanipulasi lagi," tegasnya.

Bahkan Haris mengusulkan, agar para korban dan keluarga korban melaporkan buruknya kinerja kepolisian tersebut ke Komnas HAM,  DPR RI dan Ombudsman RI.





Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!