Resahkan Warga, Dinas Pariwisata NTT Gelar Lomba Tangkap Buaya

"Dengan catatan, tidak boleh menangkap di sarangnya. Lalu kemudian tidak boleh ditembak mati. Karena ini binatang yang dilindungi."

Jumat, 12 Agus 2016 14:43 WIB

Peringatan waspada serangan buaya di pantai Kupang, NTT. (Foto : Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Kupang- Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parektif) Nusa Tenggara Timur belum menetapkan waktu untuk menggelar lomba tangkap buaya di Pantai Lasiana Kota Kupang dan sekitarnya. Kepala Dinas Perektif NTT Marius Ardu Jelamu mengatakan, waktu lomba belum ditetapkan, hanya sudah diumumkan ke warga melalui berbagai media cetak dan elektronik.

"Sudah diumumkan, tapi secara resmi nya kita akan umumkan melalui mas media. Tetapi di radio koran, itu sudah kita sampaikan. Dan tim-tim yang ini sudah ada yang selalu mengawasi di pantai sekarang. (Sudah ada yang mendaftar?) Sudah ada. Sudah ada kita dapat berita akan ada yang mendaftar silahkan. Dengan catatan, tidak boleh menangkap di sarangnya. Lalu kemudian tidak boleh ditembak mati. Karena ini  binatang yang dilindungi. Dilumpuhkan iya, dengan bius, tetapi kalau dia mengancam nyawa manusia, apa boleh buat," kata Marius Ardu Jelamu di Kupang, Jumat (12/8).

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parektif) NTT Marius Ardu Jelamu menambahkan, lomba atau sayembara tangkap buaya di Pantai Lasiana Kupang ini dilakukan, karena kehadiran buaya itu sudah sangat meresahkan dan mengganggu aktivitas pariwisata di daerah ini. Banyak wisatawan lokal menjadi korban keganasan buaya di Pantai Kupang.

Dia mengatakan penangkapan buaya seharusnya menjadi tugas Balai Besar Konversi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT. Namun Dinas Pariwisata NTT ingin melibatkan masyarakat menangkap buaya di perairan Kota Kupang. Buaya-buaya itu berdampak terhadap wisata daerah.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Mendagri: Fraksi Yang Tak Terima Silakan ke MK

  • Setengah Calon Haji Cilacap Beresiko Tinggi
  • Kabar Kematian Chester Bennington Buat Geger Dunia Maya
  • Liverpool Tolak Tawaran Barcelona untuk Countinho

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.