Warga Bondowoso, menikmati sajian Tape gratis yang disediakan Pemkab Bondowoso, dalam acara Festival Tape di alun–alun, Sabtu (13/8/2016). (Foto : KBR/Friska Kalia)

KBR, Bondowoso– Tape asal Bondowoso terkenal dengan cita rasa yang khas yakni manis, legit dengan tekstur yang kesat dan tahan lama. Cita rasa ini juga yang membuat tape Bondowoso banyak dipalsukan oleh pedagang untuk dijual keluar daerah Bondowoso.

Makanan ini diolah dari singkong dengan proses fermentasi menggunakan bubuk ragi. Dibalik legitnya tape Bondowoso, ada sejumlah mitos yang hingga kini masih dipercaya dan dijalankan secara turun menurun oleh sebagian besar perajin tape di Bondowoso. Apa itu?

Salah seorang perajin tape asal Kecamatan Pujer, Supandi bercerita, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mengolah singkong hingga menjadi tape. Proses pembuatan tape  melalui beberapa tahapan, mulai mengupas singkong yang kemudian dikukus hingga setengah matang. Setelah itu, singkong dibiarkan dingin untuk kemudian ditaburi dengan ragi untuk kemudian dikemas menggunakan besek (kotak makanan dari anyaman bambu).

Proses penaburan ragi inilah yang diyakini menjadi poin penting untuk menghasilkan tape berkualitas. Supandi mengatakan, ada kriteria khusus bagi pekerja yang bertugas menabur ragi pada singkong yang telah dikukus.

“Penabur ragi adalah orang pilihan. Tidak boleh terlilit hutang, tidak dalam kondisi berduka cita, serta dalam keadaan suci atau tidak sedang menstruasi. Biasanya memang penabur ragi usianya sudah renta,” kata Supandi.

Hal serupa disampaikan perajin tape dari Desa Tegaljati Kecamatan Sukosari, Saberi.   Saberi sudah berkecimpung di industri pembuatan tape sejak remaja. Hingga kini menginjak usia 60 tahun, Saberi masih menjadi penabur ragi.

“Memang begitu, tidak boleh sembarangan saat menabur ragi di tape. Orang tua dari dulu berpesan, jangan susah hati dan harus dalam keadaan suci. Kalau tidak, pasti ada saja masalah di tape. Bisa becek, rasanya pahit, atau bahkan gagal,” kata Saberi.

Meski tak ada kajian ilmiah yang mengaitkan antara kondisi-kondisi tersebut penabur ragi dan rasa khas Tape Bondowoso yang tersohor, namun tak bisa dipungkiri banyak perajin Tape yang hingga kini masih patuh pada aturan tersebut. Konon, inilah rahasia sehingga Tape asal Bondowoso tak bisa ditiru atau diduplikasi oleh daerah lain.

“Coba saja bedakan rasa tape yang dibeli di luar kota dengan tape asli Bondowoso. Kalau mau tape yang enak, hanya bisa ditemukan di Bondowoso ini,” ujarnya.

Data Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso menunjukkan, saat ini ada sekitar 157 perajin tape yang tersebar di berbagai daerah di Kabupaten Bondowoso. Angka tersebut belum termasuk perajin tape kecil yang jumlahnya diperkirakan lebih banyak.

Diskoperindag   memperkirakan, perputaran ekonomi yang terjadi mulai dari produksi hingga penjualan di gerai ataupun sentra industri Tape, mampu mencapai Rp. 100 juta dalam sehari.


Editor: Rony Sitanggang



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!