Petani Tembakau Disarankan Beralih ke Kedelai

"Kita masih butuh, buktinya kita tiap tahun impor kedelai kan?"

Kamis, 25 Agus 2016 19:38 WIB

Ilustrasi: petani tembakau (bappeda.jatimprov.go.id)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Mataram- Petani tembakau di pulau Lombok mengalami kerugian akibat cuaca  yang tidak menentu. Kualitas daun tembakau Virginia yang ditanam petani menjadi tidak bagus. Akibatnya harga jual menjadi lebih rendah. Petani tembakau di Lombok Timur bisa rugi 15 juta perhektar akibat kondisi ini.

Terkait kondisi itu, Anggota DPRD NTB daerah pemilihan Lombok Timur, H Machsun Ridwainny menyarankan petani beralih menanam kedelai. Menurut dia, kedelai kini lebih menjanjikan karena kebutuhan secara nasional masih tinggi. Namun pemerintah juga harus menjamin pasar komoditas yang ditanam oleh petani agar mereka tidak rugi.

"Mereka harus beralih sekarang. Perusahaan tembakau itu tidak mau beli kalau daun bawah. Terus apa mau dibuang? Yang laku dijual saja masih rugi, apalagi yang tidak laku. Kalau saya kedelai yang bagus untuk beralih asal pemerintah juga turun tangan dalam hasilnya nanti itu. Kita masih butuh, buktinya kita tiap tahun impor kedelai kan," kata Machsun, Kamis (25/08).


Dia mengatakan, ada rencana para petani tembakau di Lombok Timur mau melakukan unjuk rasa ke gedung dewan agar mereka diperhatikan. Masalahnya, perusahaan tidak semuanya menyerap hasil produksi tembakau petani.  Dia mendesak agar perusahaan mitra segera membeli tembakau petani, meskipun kualitas kurang bagus agar mereka tidak rugi.

Gairah petani menanam tembakau di Lombok semakin kurang. Salah satu indikatornya, luas areal tanam tembakau di Lombok Timur berkurang cukup drastis. Dari 20 ribu hektar di tahun-tahun sebelumnya menjadi 12.600 hektar tahun ini. Perusahaan mitra yang membeli hasil tembakau petani juga banyak yang tutup gudang. Dari 20 perusahaan mitra, kini tersisa 13 perusahaan saja.

Editor: Dimas Rizky

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

Sampaikan Pledoi, Andi Narogong: Saya Salah Dan Minta Maaf Kepada Seluruh Rakyat Indonesia

  • Penyuap Panitera PN Jaksel Dituntut 3 Tahun Penjara
  • Presiden Jokowi Bahas Industri Pertahanan dan Kesejahteraan Prajurit dengan Panglima TNI
  • Menteri Pendidikan: Ada Ketidaksengajaan Sebut Yerusalem Ibu Kota Israel

Kemiskinan, konflik senjata, norma budaya, teknologi komunikasi modern, kesenjangan pendidikan, dan lain-lain. Kondisi-kondisi ini membuat anak rentan dieksploitasi