Anggota Veteran memperingati Hari Veteran Nasional di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Jalan Dipati Ukur, Bandung, Rabu (10/8/2016) (Foto: Arie Nugraha/KBR)



KBR, Bandung- Para veteran di Jawa Barat berharap pemerintah tetap memperhatikan kesejahteraan mereka. Hal itu diungkapkan Purnawirawan Hidayat Kusuma Negara dalam upacara peringatan hari Veteran Nasional, Rabu (10/08/2016).

Hidayat mengatakan lebih dari 25 persen anggota veteran dari total jumlah 25.800 yang berada di Jawa Barat, kehidupannya tidak sejahtera. Kata dia itu berdasar tempat tinggal para veteran yang tak laik.

"Boleh juga dikatakan kecewa. Dulu kita-kita dari perjuangan untuk merdeka, secara perjuangan bersenjata telah berhasil mengusir penjajah dari tanah air dengan hasil Proklamasi 17 Agustus 1945. Tetapi perjuangan para veteran bukan hanya sampai di situ, tetapi mengisi kemerdekaan ini dengan program pembangunan untuk kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia," ujarnya di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Jalan Dipati Ukur, Bandung, Rabu (10/8).

Hidayat Kusuma Negara menambahkan, meski sebagian kecil anggota veteran ini kurang berkecukupan hidupnya namun itikad baik pemerintah patut diapresiasi.

Hidayat mencontohkan saat ini seluruh anggota veteran mendapatkan tunjangan senilai lebih dari Rp 1 juta tiap bulannya, pelayanan BPJS kelas satu, potongan harga untuk transportasi umum milik berupa penerbangan, kereta api dan bus.

Hal lainnya, Hidayat Kusuma mengingatkan veteran saat ini bukan dalam posisi prioritas.  Itu semisal setiap dalam acara kenegaraan seperti peringatan kemerdekaan, para veteran selalu ditempatkan di barisan belakang, terkalahkan oleh organisasi masyarakat.

Padahal dalam Undang Undang nomor 15 tahun 2012 pasal 19, disebutkan salah satunya posisi veteran sejajar dengan pejabat pemerintah.

Editor: Dimas Rizky

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!