Pendapatan Banyumas dari Cukai Rokok Bertambah Rp1 Miliar

Dana bagi hasil cukai rokok akan digunakan untuk pembangunan instalasi kesehatan daerah. Hal ini termasuk pembangunan ruang rawat inap pasien dampak asap rokok.

Kamis, 25 Agus 2016 09:26 WIB

Ilustrasi cukai tembakau. (Foto: beacukai.go.id)



KBR, Banyumas – Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah tahun 2016 ini mendapat Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp5,7 miliar. Jumlah itu naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya Rp4,7 miliar.

Pendapatan dari cukai rokok meningkat sekitar Rp1 miliar, meskipun lahan tanaman tembakau di wilayah itu tidak seluas daerah lain seperti Temanggung atau Wonosobo.

Kepala Seksi Dana Perimbangan dan Lain-lain pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah, Soesanto mengatakan cukai itu merupakan kompensasi dampak asap rokok oleh konsumen.

Terkait wacana kenaikan harga rokok, Soesanto belum bisa memastikan apakah akan menaikkan DBHCK atau justru malah menurunkan. Di satu sisi, kenaikan harga rokok akan menaikkan cukai tembakau. Namun, di sisi lain kenaikan harga rokok yang tinggi bisa jadi justru menurunkan angka konsumen rokok. Itu sebab, cukai akan turun.

"Kalau misalnya yang merokok menjadi sedikit (setelah harga rokok naik) artinya pendapatan dari cukai mungkin tetap. Kalau yang merokok ajeg (tetap), kemungkinannya berdampak ke sana (pendapatan cukai akan naik). Kita juga menghasilkan (tembakau) tetapi sedikit. Artinya jumlahnya tidak terlalu signifikan," kata Soesanto.

Soesanto menjelaskan, sesuai dengan petunjuk pemerintah pusat, DBHC Hasil Tembakau akan digunakan untuk pembangunan instalasi kesehatan daerah. Hal ini termasuk pembangunan ruang rawat inap pasien dampak asap rokok.

Dana Rp5,7 miliar yang diterima Banyumas akan digunakan antara lain untuk pembangunan rawat inap pasien dampak asap rokok Balai Pengobatan Paru Paru Purwokerto sebanyak Rp1,38 miliar,  pembangunan gedung klinik tuber Colusa (TBC) RSUD Banyumas sebanyak Rp600 juta, dan pembangunan asrama Badan Latihan Kerja (BLK) Rp248 juta serta pemantauan cukai illegal oleh Satpol PP sebanyak Rp 83 juta.

Selain menggunakan dana DBHCT 2016, pembangunan berbagai instalasi kesehatan itu juga akan menggunakan sisa dana bagi hasil cukai tahun 2015 yang belum digunakan.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

KPK Minta Opini Alternatif, IDI Siapkan Pemeriksaan terhadap Novanto

  • Ratusan Warga Non-Papua Keluar dari Lokasi Konflik Tembagapura
  • Jokowi Minta DPD Dukung Pembangunan Daerah
  • Satgas Temukan Kayu-kayu Hasil Pembalakan Liar Hutan Lindung di Nunukan

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau