Ilustrasi. Pelayanan kesehatan di puskesmas. Foto: Antara


KBR, Kupang- Pemerintah Kota Kupang enggan mengalihkan dana jaminan kesehatan, Jamkesda, ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, BPJS Kesehatan. Walikota Kupang Yonas Salean mengatakan pemerintah Kupang merasa rugi jika harus mengalihkan dana Jamkesda ke BPJS Kesehatan. Sebab menurut Yonas dana Jamkesda masuk ke kas daerah.

"Kita rugi kalau untuk keluarga yang tidak mampu masuk BPJS. Misalnya kita bayar 25 ribu, tapi dia tidak pernah sakit  satu tahun. Misalnya kita siapkan 20 miliar, yang terpakai hanya 10 miliar, maka 10 miliar itu dianggap selesai,” kata Yonas Salean di Kupang, Senin (22/8).

Yonas menambahkan pihaknya memiliki kebijakan sendiri untuk memberikan akses kesehatan bagi rakyat miskin di Kupang.

“Khusus untuk pelayanan kesehatan kita melalui KTP ini berdasarkan jumlah orang sakit yang datang berkunjung ke Puskesmas maupun rumah sakit. Dan duit itu bergulir di dalam daerah itu sendiri. Jadi kita siapkan dalam APBD, dia berobat di Puskesmas Rumah sakit, dana itu masuk kembali di APBD. Jadi tidak hilang dana itu. Artinya warga kota sakit bawa KTP saja, tidak perlu kartu lain-lain. Kecuali yang masuk melalui BPJS itu beda."

Menurut Yonas, masih banyak warga miskin di Kota Kupang yang tidak terakomodir BPJS Kesehatan. Sehingga mereka harus membiayai sendiri jika sakit,  “karena itu pemerintah kota Kupang melalui program Jaminan Kesehatan Daerah, menggratiskan biaya kesehatan bagi warga miskin ketika mereka sakit dan berkunjung ke Puskesmas atau rumah sakit daerah kota Kupang.”

Jika sebelumnya warga miskin menunjuk kartu Jamkesda di Puskesmas atau rumah sakit ketika berobat.  Mulai tahun depan Yonas mengatakan warga yang sakit hanya perlu memperlihatkan KTP Kota Kupang, “mereka tidak dikenakan biaya atau gratis.”

Editor: Malika

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!