Kondisi pantai Pulau Merah di Banyuwangi, tercemar banjir lumpur. Foto: Hermawan/KBR

KBR, Banyuwangi - Kelompok masyarakat (pokmas) Wisata Pulau Merah, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, membentuk panitia khusus penanganan banjir lumpur. Wakil Ketua Pansus Penanganan Banjir Lumpur Pulau Merah, Yogi Turnando menjelaskan, tugas pansus nantinya mendesak pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan banjir lumpur yang mengotori Pulau Merah dalam sepekan terakhir.

Menurut Yogi, pansus telah menemui PT Bumi Suksesindo --perusahaan pemegang izin pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu. Warga menduga, aktivitas pertambangan yang menyebabkan banjir lumpur itu terjadi.  Sebab sebelum ada pertambangan, banjir lumpur tak pernah muncul di daerahnya.

Yogi menambahkan, akibat dari bajir lumpur itu, biota laut seperti ikan dan terumbu karang yang berada kawasan pantai Pulau Merah ditemukan mati. Selain itu, banjir lumpur yang mencemari pantai Pulau Merah itu juga menyisakan lumpur yang cukup pekat berwarna hitam. Kata dia, lumpur tersebut mengeluarkan bau yang tidak sedap. Sehingga menimbulkan ketidaknyamanan para wisatawan.

Menurut Yogi, bencana banjir lumpur ini berimbas dengan menurunnya kunjungan wisatawan. Kata Yogi, jika PT Bumi Suksesindo tidak segera menormalisasi pantai Pulau Merah, masyarakat di pantai Pulau Merah mengancam akan mengadukan permasalahan ini ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Sebab, banjir lumpur telah membuat pengunjung Pulau Merah anjlok. Selain itu, pelaku wisata Pulau Merah mendapatkan komplain dari banyak pengunjung terutama wisatawan luar negeri.

Dari pantauan KBR warna laut Pulu Merah sudah mulai jernih kembali namun pengunjung juga belum ramai seperti sebelumnya.

Sebelumnya, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan Banyuwangi, Jawa Timur mengingatkan PT. Bumi Suksesindo (BSI) selaku pemegang izin pertambangan emas di Bukit Tumpang Pitu untuk mematuhi seluruh perencanaan dalam dokumen lingkungan. Termasuk soal pembangunan dam sebagai tempat penampung air hujan sehingga luapan tak mengarah ke wilayah hilir.

Pasalnya, menurut Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pertambangan (Disperindagtam) Banyuwangi, Hary Cahyo Purnomo, dari total kewajiban membangun enam dam, PT BSI baru menyelesaikan pembangunan tiga dam. Akibatnya, saat hujan deras mengguyur Banyuwangi dalam beberapa hari terakhir, lumpur dan sampah terbawa hingga ke hilir. Termasuk, ke Sungai Katak yang mengalir hingga ke pantai Pulau Merah.

Padahal, Harry memaparkan, pada awal 2016 lalu kawasan Gunung Tumpang Pitu ditetapkan sebagai Obyek Vital Nasional (Obvitnas). Mestinya, PT BSI selaku kuasa pertambangan harus segera merampungkan seluruh tahapan pada perencanaan dokumen lingkungan.

"Kalau sudah obyek vital nasional itu bagaimana? Itu sudah obyek vital nasional dan keberadaanya sudah nasional. Berarti sudah otomatis  tidak perlu di-inikan (dirincikan--Red) berarti sudah otomatis," kata Hari Cahyo Purnomo di Banyuwangi, Sabtu (20/8/2016).

Baca juga:
Lumpur di Pantai Pulau Merah Banyuwangi Tidak Berbahaya



Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!