Kondisi Pantai Pulau Merah di Banyuwangi (Foto: Hermawan)

Kondisi Pantai Pulau Merah di Banyuwangi (Foto: Hermawan)



KBR, Banyuwangi – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Banyuwangi, Jawa Timur, memastikan lumpur yang mencemari laut di kawasan wisata Pantai Pulau Merah tidak berbahaya. Lumpur itu hanyalah lumpur tanah biasa yang hanyut dari Sungai Katak.

Kepala BLH Banyuwangi Khusnul Hotimah menjelaskan BLH sudah mengambil contoh lumpur maupun air laut yang tercemar di pantai tersebut. Kesimpulan sementara, kata dia, itu adalah lumpur yang aman bagi lingkungan maupun manusia.

Kerukan lumpur itu terjadi akibat proses pembangunan infrastruktur pertambangan yang tengah dilakukan oleh PT Bumi Suksesindo. Pembangunan dilakukan di sebuah bukit gundul di kawasan Gunung Tumpang Pitu.

“Kerukan tanah dalam membuat dam pengendali itu larut bersama air hujan, masuk ke sungai Katak langsung ke muaranya ke Pulau Merah disitu mengendap yang akhirnya airnya pantai Pulau Merah itu coklat semua banyak lumpur. Secara logika memang begitu kan ada sedimentasi disitu,” kata Khusnul Khotimah kepada KBR hari ini (19/8/2016).

Baca juga: Banjir Lumpur Makin Parah, Wisata Pantai Pulau Merah Banyuwangi Sepi Pengunjung 

Sebelumnya banjir lumpur itu diduga akibat aktivitas penambangan emas Gunung Tumpang Pitu oleh PT Bumi Suksesindo. Namun, hingga kini sebetulnya proses penambangan emas belum dimulai karena perusahaan baru membangun infrastrukturnya, misalnya area perkantoran, pergudangan  serta dam pengendali seluas 45 hektar yang bisa menampung debit air hingga 1,9 juta meter kubik lebih air.

Tingginya intensitas hujan dalam sepekan terakhir menyebabkan sejumlah sungai di sekitar Gunung Tumpang Pitu meluap. Juru Bicara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Eka Muharram mengatakan, air sungai yang meluap itulah yang membawa lumpur ke pantai. Akibatnya, Pantai Pulai Merah yang berpasir putih bersih kini terlihat kotor tertutup lumpur.

Meski lumpur itu tidak berbahaya, BLH meminta PT Bumi Suksesindo untuk menangani lumpur tersebut karena sudah mencemari pantai wisata setempat.

Editor: Citra Dyah Prastuti   

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!