Longsor Curug Kembar Sukabumi, Ratusan Warga Dua Desa Mengungsi

BPBD Sukabumi menyebut longsor itu bertipe rayapan atau longsor dengan pergerakan tanah sangat lambat dan hampir tidak bisa dikenali.

Kamis, 18 Agus 2016 16:25 WIB

Ilustrasi. Beberapa orang berada di sekitar rumah rusak akibat longsor melanda Sukabumi pada Februari 2016 lalu. (Foto: bpbd.sukabumikota.go.id)



KBR, Bandung - Bencana tanah longsor terjadi di Desa Cimenteng dan Desa Nagrak Jaya, Kecamatan Curug Kembar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Longsor itu merusak ratusan rumah dan infrastruktur lain.

Jumlah keseluruhan bangunan yang terdampak longsor sebanyak 429 bangunan, yaitu 174 unit rumah hancur, 102 rumah rusak sedang, 56 rumah rusak ringan, dan 97 unit rumah terancam.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukabumi, Usman Susilo mengatakan bencana longsor itu memaksa warga yang tinggal di Desa Cimenteng dan Desa Nagrak Jaya harus mengungsi.

"Ada yang mengungsi ke rumah saudara, tetangga bahkan ada yang mengontrak. Cuma kalau yang rusak ringan sama terancam itu baru mengungsi kalau hujan. Kalau enggak hujan ya balik lagi," ujar Usman Susilo kepada KBR, Kamis (18/8/2016).

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sukabumi, Usman Susilo mengatakan saat hujan atau malam tiba, jumlah pengungsi mencapai 300 sampai 350 orang. Namun saat cuaca terang hanya berkisar 100 sampai 150 orang.

BPBD Sukabumi telah mendirikan dua pos penampungan pengungsi di Kampung Babakan, Desa Nagrak Jaya dan kini dihuni sekitar 300 pengungsi.

BPBD Sukabumi menyebut longsor itu bertipe rayapan atau longsor dengan pergerakan tanah sangat lambat dan hampir tidak bisa dikenali. Longsoran ini biasanya mudah dilihat dari dampak yang ditimbulkan yaitu pohon atau tiang telepon miring ke bawah.

Di Sukabumi, longsor dengan tipe rayapan ini berdampak kerusakan pula terhadap fasilitas umum dan sawah, meliputi empat gedung majelis taklim rusak, empat mushola rusak, bangunan pesantren, bangunan SD rusak berat, satu bangunan kantor desa rusak berat, Puskesmas pembantu rusak berat, bangunan Posyandu rusak berat dan 10 hektar sawah rusak dan gagal panen.

Dua desa yang mengalami peristiwa longsor ini merupakan kawasan merah gerakan tanah dan tidak layak dihuni. Saat ini longsoran tipe rayapan tersebut masih terus terjadi dan diperparah dengan curah hujan yang masih terus turun.

Editor: Agus Luqman
 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Arus Balik Pantura Semakin Padat Lantaran Truk Dibolehkan Melintas

  • Waspadai KM 66 Cipali-Purbaleunyi Dan Nagrek, Jadi Titik Macet Arus Balik
  • Universal Studio di Singapura Dinobatkan Sebagai Taman Hiburan Teratas di Asia
  • Italia Ancam Bakal Hentikan Kapal Imigran

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?