Jadi Pembicara di KTT PBB ke-71, TKI Eni Lestari Suarakan 3 Isu Buruh Migran

Buruh migran di Hong Kong, Eni Lestari Andayani Adi bakal menyuarakan tiga isu utama saat menjadi pembicara di Komisi Tingkat Tinggi PBB tentang Migran dan Pengungsi pada 19 September.

Minggu, 28 Agus 2016 20:12 WIB

Aliansi Buruh Migran mendesak adanya moratorium TKI. Foto: ANTARA

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Malang - Buruh migran di Hong Kong, Eni Lestari Andayani Adi bakal menyuarakan tiga isu utama saat menjadi pembicara di Komisi Tingkat Tinggi PBB tentang Migran dan Pengungsi pada 19 September mendatang.

Tiga isu itu di antaranya menuntut semua negara mengutamakam hak dan kesejahteraan buruh migran, negara penerima buruh migran diminta tak menempatkan mereka sebagai masyarakat kelas dua, dan negara pengirim tak membiarkan terjadinya eksploitasi serta perdagangan manusia terhadap buruh migran.

Eni yang juga Ketua Internastional Migrants Alliants (IMA) menambahkan, selama ini buruh migran mengalami diskriminasi, terisolasi, dan tak bisa berkumpul bersama teman-temannya. Sehingga, kekerasan rasial kerap menimpa mereka. Bahkan, sejumlah buruh migran jadi korban pembunuhan.

"Sudah majikan jahat, agen dan PT tak mau tahu. Kedua, sindikat narkoba yang mengincar perempuan rentan yang butuh uang. Dua perkara besar yang masuk sindikat erdagangan manusia selama ini tak terkuak karena
gerakan kami ini mengangkat Merry Jane dan Mari Utami melalui angle trafficking-nya," kata Eni.

Eni merupakan salah satu dari tiga pembicara kunci dalam KTT PBB ke-71 di New York. Dia terpilih dari 400 tokoh dunia yang memperjuangkan hak buruh migran dan pengungsi.

Dia akan berbicara di hadapan 1.900 undangan meliputi Kepala Negara, Menteri, Akademisi, tokoh dunia dan masyarakat sipil.




Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

ICW Curiga Kekayaan Setya Novanto yang Sebenarnya

  • Aktivitas Gunung Agung Meningkat, Warga Tetap Diminta Tak Panik
  • Suu Kyi Berharap Capai Perjanjian dengan Bangladesh Soal Rohingya
  • Marquez: Kecelakaan Bantu Saya Raih Juara Dunia