Presiden Joko Widodo saat menemui warga dari Suku Anak Dalam di Jambi. (Foto: ksp.go.id)



KBR, Bengkulu – Sebanyak 15 orang dari Suku Anak Dalam (SAD) dari Provinsi Jambi terpaksa keluar dari dalam kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), saat melaksanakan ritual tolak bala.

Belasan warga Suku Anak Dalam itu kesulitan mendapatkan bahan makanan akibat hutan yang biasa mereka lewati dan tempat memenuhi kebutuhan makan saat ritual tolak bala, kini sudah berubah menjadi kebun sawit.

Kepala Bidan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Mukomuko, Suyoso mengatakan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama tiga bulan dalam perjalan ritual itu, mereka terpaksa  minta bahan makanan kepada penduduk di luar kawasan hutan.

Ritual tolak bala sudah menjadi tradisi warga Suku Anak Dalam secara turun menurun dengan hanya berbekal peralatan masak seadanya.

"Jadi adat istiadat Suku Anak Dalam kalau ada yang meninggal dunia mereka harus merantau tiga bulan lamanya. Jadi untuk membuang sial mereka harus pergi selama tiga bulan. Kebetulan larinya arah ke Mukomuko. Jumlah mereka lima orang laki-laki dewasa, tiga perempuan dewasa dan tujuh anak-anak," kata Suyoso kepada KBR, Kamis (25/8/2016).

Suyoso mengatakan 15 orang Suku Anak Dalam itu kini ditampung sementara di salah satu ruang kantor camat Kecamatan lubuk Pinang, Kabupaten Mukomuko. Pemerintah daerah akan membantu kebutuhan makanan mereka.

Selanjutnya, warga Suku Anak Dalam berencana melanjutkan perjalan ritual tolak bala namun tidak melewati kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Seblat, tetapi melintasi jalan Lintas Barat menuju Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, Kebupaten Kepahiang, Curup Kabupaten Rejang Lebong, Lubuk Linggau Sumatra selatan dan kembali lagi ke kawasan hutan tempat mereka tinggal di daerah Jambi.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!