Ilustrasi

KBR, Mataram- DPD Real Estate Indonesia (REI) NTB mengaku kesulitan untuk merealisasikan program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) atau rumah bersubsidi di kota Mataram. Hal ini disebabkan karena harga lahan di Kota Mataram cukup tinggi, yaitu sudah melebihi harga yang sudah ditetapkan pemerintah.

Ketua DPD REI NTB Miftakhudin Ma’ruf  Kamis (11/08) mengatakan, program rumah bersubsidi dipatok dengan harga 133,5 juta per unit. Sementara harga lahan sudah mencapai 100 juta per are, sehingga sulit terealisasi.

Dengan adanya persoalan tersebut REI NTB berencana akan membangun rumah susun yang akan disubsidi pemerintah. Rencana ini akan dikoordinasikan dengan pemerintah Kota Mataram mengingat masyarakat di Kota Mataram dinilai belum terbiasa tinggal di rumah susun.  DPD REI NTB juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait pembangunan rumah susun tersebut.

“Kalau di kota Mataram ya terus terang saja kalau untuk rumah FLPP ini mungkin tidak masuk akal ya karena harga sudah ditentukan oleh pemerintah. Harga lahan saat ini sudah melebihi harga yang ditetepkan pemerintah. Jadi sulit rasanya membangun untuk MBR khususnya di kota Mataram ya. Jadi solusinya itu mengkin rumah vertikal, namun kita bicarakan dulu dengan Pemda. Karena masyarakat kita belum terbiasa tinggal di rumah susun, kita perlu sosialisasi” kata Miftakhudin Ma’ruf, Kamis (11/08)

Selain berkoordinasi dengan pemerintah daerah, pihaknya juga akan melakukan kajian. Karena, pemerintah Kota Mataram sudah membangun tiga lokasi rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) yang diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak memiliki rumah. Namun, minat masyarakat untuk menempati Rusunawa memang masih rendah. Hal ini terlihat dari masih banyaknya Rusunawa yang belum terisi. Adapun lokasi Rusunawa yang sudah dibangun oleh pemerintah Kota Mataram yaitu Selagalas, Kelurahan Mandalika dan Montong Are.

Editor: Dimas Rizky

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!