Anak-anak siswa sekolah keagamaan (Madrasah Diniyah) bermain saat istirahat sore hari, di Banyumas, Jawa Tengah. (Foto: M Ridlo/KBR)



KBR, Banyumas - Forum Komunikasi Madrasah Diniyah (FKMD) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah menolak usulan penerapan sekolah sepanjang hari (full day school) oleh Menteri Pendidikan Muhajir Effendy.

Guru Sekolah Agama (Madrasah Diniyah) Miftahul Huda, Roikhatul Janah mengatakan Full Day School akan berakibat langsung pada terancamnya keberlangsungan sekolah agama (Madrasah Diniyah). Sebab, madrasah diniyah dilakukan setelah anak pulang sekolah formal.

Janah mengatakan di daerah anak SD sudah terbiasa menjalani pendidikan keagamaan nonformal, seperti Taman Pendidikan Quran (TPQ) dan Madrasah Diniyah. Janah mengatakan pendidikan keagamaan nonformal seperti ini sudah dilakukan selama puluhan tahun.

"Madrasah Diniyah jelas akan sangat terganggu. Dan mungkin akan hilang sama sekali. Soalnya full day school itu kan diwacanakan sampai jam 5 sore. Sementara, madrasah itu dimulai pukul 2 siang hingga jam empat sore," kata Roikhatul Janah.

Ia mempertanyakan apakah full day school juga bisa menyediakan pendidikan keagamaan yang kualitasnya mampu mengimbangi pendidikan semacam madrasah diniyah atau TPQ.

"Ide full day school itu tidak berpihak pada anak, melainkan hanya mempertimbangkan orang tua saja. Di satu sisi, beban orang tua akan ringan lantaran anak seharian di sekolah, hingga pukul 5 sore. Tapi, anak akan kehilangan waktu bermain dan berinteraksi lebih banyak dengan keluarga. Padahal orang tua juga punya peran vital mendidik anak di usia dini," kata Janah.

Menurut Janah, jam pelajaran yang terlalu panjang tidak efektif. Sebab, anak-anak juga memiliki keterbatasan secara fisik dan mental untuk melalui jam sekolah formal yang panjang.

"Orang tua mungkin bilangnya full day school itu bagus. Tetapi anak-anak sepertinya belum mampu. Ya pikirannya, ya tenaganya. Untuk mikir selama seharian penuh itu bagaimana? Belajar selama lima jam saja sudah sangat lelah," kata Roikhatul.

Ketua FKMD Kabupaten Banyumas, Zuhri mengatakan di Banyumas terdapat 300 Madrasah Diniyah yang tersebar di pedesaan. Madrasah Diniyah mulai melakukan kegiatan belajar mengajar antara pukul 14.00 WIB dan 15.00 WIB, atau ketika siswa sudah beristirahat di rumah sepulang sekolah formal.

Zuhri mengatakan madrasah diniyah ini didirikan oleh masyarakat setempat agar anak-anaknya mendapat pelajaran agama yang lebih mendalam. Di 300 sekolah tersebut, ada 17 ribuan siswa dan 2000 guru yang melakukan aktivitas belajar mengajar.

Sejumlah pelajaran yang tidak didapat di sekolah formal diajarkan di Madrasah Diniyah. Antara lain, akidah ahlak (norma perilaku), tajwid (tata cara membaca Alquran), hafalan Alquran, fikih (aturan hukum), dan sejarah nabi dan rasul.

Zuhri mengatakan kurikulum sekolah formal belum bisa mengakomodir pendidikan agama seperti yang dilakukan oleh Madrasah Diniyah. Dasar agama ini menurut dia harus dilakukan sejak usia dini.

Editor: Agus Luqman 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!