Ilustrasi: Ketakutan PKI. (Foto: Tom Lin)

KBR, Jakarta - Diskusi buku Aidit dan Revolusi Indonesia di Gorongan, Caturtunggal, Sleman, Yogyakarta berjalan lancar kendati sempat mendapat tekanan dari organisasi massa. Pendamping dari LBH Yogyakarta Hamzal Wahyudi mengatakan, panitia didatangi tiga orang perwakilan Ormas Merah Putih, meminta agar diskusi dibatalkan. Kata dia, ormas yang mengklaim gabungan dari 24 organisasi itu menganggap diskusi tersebut terkait erat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Memang sebelumnya ada tekanan dari ormas, tekanan langsung melalui panitia acara. Cuma LBH meminta panitia untuk lanjut aja diskusi, ini bagian dari kebebasan warga negara, untuk berdiskusi, untuk menyampaikan pendapat, dan siapapun tidak boleh melarang,"  kata Hamzal ketika dihubungi KBR, (20/8/2016).

Baca juga:

Menurut Hamzal, sejak siang tadi, pihak ormas juga menyampaikan tekanan melalui telepon dan pesan pendek. Mereka mengancam akan membubarkan acara apabila panitia mengabaikan tuntutan tersebut. Namun, ancaman tak terbukti, bahkan pihak ormas baru datang ketika acara sudah selesai.

"Dia (mengancam--red) akan melakukan pembubaran paksa di lokasi, tapi kan nggak ada yang datang," kata dia.

Kendati mendapat tekanan, panitia enggan melapor ke kepolisian.

"Saya kira polisi sudah tahu. Kalau polisi pasti ngomongnya, sudah ada izinnya belum? kan aneh. Sebenarnya nggak perlu izin," tuturnya.

Baca juga: Kumpulan berita tentang tragedi 65/66 



Editor: Nurika Manan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!