Nelayan Cilacap tengah membawa ikan ke TPI. Pendapatan nelayan kecil selama dua bulan terakhir menurun lantaran gelombang tinggi dan cuaca buruk. Foto: KBR/Muhamad Ridlo



KBR, Cilacap– Ribuan nelayan di pesisir Cilacap, Jawa Tengah tak melaut selama dua bulan akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi yang terjadi di perairan Jawa Tengah Selatan.

Salah satu Nelayan, Nano Sutarno mengatakan ia tidak mau mengambil resiko perahunya karam atau pecah karena hantaman gelombang. Sebab, ia untuk melaut dirinya hanya bermodal perahu fiber kecil.

“Ya nggak bisa melaut. Paling tadi pagi, hanya beberapa perahu yang melaut. 30 persen tidak sampai. Cuaca juga tidak mendukung. Kalau pun cuaca mumpuni, dari segi hasil tidak mumpuni. Ya sama saja mengurangi hasil nelayan. Paling satu angkatan hanya dapat satu blong (drum) atau dua blong, ” kata Nano, Selasa (30/8/2016).

Menurut Nano, yang berani melaut saat ini hanya pemilik perahu dengan bobot di atas 10 groos ton.

“Itu pun hanya di perairan dangkal dan tidak terlalu jauh dari bibir pantai.”  Dengan begitu, kata dia, saat gelombang tinggi datang, perahu bisa secepatnya berlindung atau bersandar di pelabuhan terdekat.

Menurut dia, saat ini juga bukan musim ikan.

“Kalau pun ada, ikannya tidak bernilai jual tinggi. Blibis dan kembung yang hanya berhaga di bawah Rp 10 ribu. Ikan dengan nilai ekonomi tertinggi hanya layur yang keberadaannya tidak pasti. Ikan layur dijual dengan harga Rp40 ribu per kilogram.”

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap, Sarjono membenarkan kondisi Samudera Hindia selama dua bulan terakhir tidak memungkinan perahu ukuran kecil melaut.

“Gelombang tinggi hanya aman untuk ukuran kapal lebih dari 30 groos ton (GT),” jelasnya.

Padahal, kata dia, dari 14 ribu nelayan Cilacap, sekira 80 persennya adalah nelayan tradisional dengan perahu fiber atau kayu dan bermesin tempel.

Akibatnya, nelayan kecil terpaksa menggunakan simpanan (tabungan) yang dikumpulkan pada periode sebelumnya. Bahkan, beberapa diantaranya terpaksa berhutang kepada juragan atau bandar ikan. Nelayan lainnya memilih ikut kapal besar agar tetap bisa bekerja.

“Hasil tangkapannya berkurang. Paling (bertahan) dengan sisa-sia simpanan, tabungan-tabungan yang yang kemarin. Kita itu kan butuh makan. Nelayan butuh, untuk menafkahi kehidupan keluarga. Nelayan terpaksa ikut (perahu besar) berlayar ke tengah.”

Editor: Malika 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!