Foto-foto menunjukkan Patung Yesus yang ambruk dan Patung Bunda Maria dibuang di sungai. Perusakan di Gereja Katolik Santo Yusuf Pekerja, Klaten, Jateng. (Foto: SEJUK)


KBR, Jakarta - Bupati Sleman Sri Purnomo menggelar rapat koordinasi soal perusakan patung keagamaan di sepanjang Jalan Salib menuju Gua Maria Sendang Sriningsih. Rapat melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan Forum Komunikasi Umat Beragama.


"Pagi ini kami akan menggelar rapat koordinasi untuk mengecek apa yang terjadi sebenarnya. Sementara, warga masyarakat juga dalam situasi yang kondusif. Rapat akan melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah dan FKUB, Forum Komunikasi Umat Beragama. Supaya situasi kondusif di masyarakat tetap terjaga, dan juga kerukunan umat beragama juga tidak terganggu," katanya.

Bupati Sleman Sri Purnomo menambahkan, rapat ini digelar untuk memastikan kerukunan umat beragama tidak terganggu dengan peristiwa tersebut. Sebab kata dia, selama ini kerukunan antarumat beragama di sana, telah terjalin dengan baik.

Baca: ANBTI: Tanpa Ketegasan Polisi, Perusakan Simbol Agama Bisa Merembet ke Tempat Lain

Sebelumnya, Gereja Katolik Yusuf Pekerja di Klaten, Jawa Tengah dirusak orang tak dikenal. Patung Maria dan Yesus di Gereja tersebut dibuang ke sungai. Perusakan juga terjadi di Goa Maria Sendang Sriningsih Dusun Jali Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika ANBTI dari warga sekitar, beberapa hari sebelum perusakan, warga menjumpai sejumlah orang tak dikenal hilir-mudik di sekitar lokasi kejadian.

Dua kejadian perusakan oleh orang tak dikenal tersebut masing-masing telah dilaporkan ke Polsek Jogonalan dan Polsek Prambanan. ANBTI meminta kepolisian setempat berkoordinasi dengan Polda Yogyakarta untuk mencegah kejadian serupa dan memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini. Warga menyertakan bukti foto perusakan dan sejumlah saksi mata.

ANBTI juga meminta warga untuk tak terprovokasi dengan perusakan ini sehingga mengambil tindakan reaktif yang malah merusak hubungan antar-agama. Menurut ANBTI, warga sebaiknya menunggu sembari mengawal proses hukum kepolisian.


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!