Ilustrasi Rumah Pangan Kita. Foto: Friska Kalia/KBR


KBR, Banyumas– Badan Urusan Logistik (Bulog) Jawa Tengah membuka gerai pasar Rumah Pangan Kita (RPK) di empat kabupaten yaitu Banyumas, Cilacap, Banjarnegara dan Kabupaten Purbalingga. RPK ini digunakan untuk melakukan operasi pasar (OP) untuk mengatasi lonjakan harga bahan pokok di luar kewajaran. 


Juru bicara Bulog Sub-Divre IV Jawa Tengah, Priyono mengatakan, lembaganya saat ini tengah melakukan operasi pasar (OP) gula pasir yang Juli kemarin melambung hingga Rp16.500 hingga Rp18.000 per kilogram. Dia mengklaim, pada Agustus ini gula pasir sudah turun hingga Rp14 ribu per kilogram.

Kata dia, di RPK ini, Bulog berfungsi sebagai penyedia grosir bahan pokok bagi toko-toko kelontong kecil yang tersebar di seluruh daerah. Kemudian, toko kecil ini mengecerkan dengan harga yang telah ditentukan Bulog ke konsumen langsung.

"Sekarang itu, kita membuka rumah pangan kita. Semua anggota masyarakat itu boleh menjadi mitra kita membeli di kita kemudian dipasarkan. Jadi nanti tepat sasaran. Toko-toko kecil itu yang membeli. Kalau sekarang itu sudah menunjukkan penurunan harga, jadi kalau kemarin bulan Juli masih Rp16.500 sekarang sudah turun menjadi Rp14 ribu sampai Rp15.000. Kalau kita kan menjualnya Rp13 ribu. Kalau totalnya kita punya 400 ton," ujarnya.

Priyono menambahkan, RPK diproyeksikan menjadi etalase  pemasaran saat Bulog melakukan kebijakan operasi pasar untuk menekan harga. Salah satu yang akan disalurkan lewat RPK adalah, daging beku impor. Khusus daging beku, Bulog Sub Divre IV Jawa Tengah juga menyediakan pendingin (freezer) dengan kapasitas simpan mencapai satu ton.

Kata dia, Fungsi lain dari RPK yang utama yaitu menekan laju inflasi daerah agar harga bahan pokok tetap terjangkau oleh masyarakat. 

Baca juga: HPP Rendah Persulit Bulog Kalteng Serap Beras Petani


Editor: Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!