Basarnas Hentikan Pencarian 11 ABK Kapal Pisang VI

Badan SAR Nasional (Basarnas) menghentikan pencarian 11 Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Pisang VI yang tenggelam dan ditemukan di selatan Semenanjung Pangandaran pada Kamis (4/8/2016).

Jumat, 12 Agus 2016 11:11 WIB

Ilustrasi kapal tenggelam. Foto: basarnas.go.id

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Cilacap – Badan SAR Nasional (Basarnas) menghentikan pencarian 11 Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Pisang VI yang tenggelam dan ditemukan di selatan Semenanjung Pangandaran pada Kamis (4/8/2016).

Koordinator Basarnas Cilacap, Mulwahyono mengatakan, pencarian telah dilakukan begitu Basarnas mendapat laporan pada 3 Agustus lalu. Namun, hingga kini 11 ABK tersebut belum ditemukan.

Ia beralasan, pencarian 11 ABK yang dinyatakan hilang itu tidak efektif lantaran sudah lebih dari 15 hari sejak kejadian tenggelam pada 27 Juli malam. Apalagi, kata dia, kecelakaan laut ini baru dilaporkan sepekan setelah kejadian. Akibatnya, pencarian kapal tenggelam beserta ABK-nya terlambat dilakukan.

"Upaya pencarian oleh Basarnas itu sudah dihentikan. Pertimbangannya, sudah tidak efektif lagi. Laporan mulai lost contack hingga pelaporan terakhir itu kan juga terlambat kepada kami dilakukan. Tentunya, bukan berarti kita melepaskan begitu saja. Kita masih lanjutkan dengan pemantauan. Sementara, statemen kami ke-11 nelayan tersebut hilang. Kita belum berani mengatakan meninggal," kata Koordinator Basarnas Cilacap, Mulwahyono, Jumat (12/8/2016).

Kendati secara resmi sudah menghentikan upaya pencarian, Mulwahyono menyatakan, pemantauan tetap dilakukan di Laut Selatan. Dia mengklaim pihaknya sudah berkoordinasi dengan Syahbandar Pelabuhan agar nelayan di Pesisir Kebumen, Cilacap, hingga Pangandaran juga turut melakukan pemantauan.

Ia meminta, nelayan dan pengguna transportasi laut lainnya segera melaporkan kepada Basarnas atau langsung mengevakuasi jika menemukan salah satu ABK.

Mulwahyono menambahkan, saat ini gelombang laut selatan memang masih tinggi. Namun tidak se-ekstrim akhir Juli dan awal Agustus kemarin. Ini berbeda dengan situasi dua pekan lalu, dimana laut selatan kerap dilanda badai dan cuaca buruk.




Editor: Quinawaty 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Evakuasi di Tembagapura, Warga Megaku Ditekan Aparat

  • Polisi, Tidak Ada Pemaksaan Evakuasi Untuk Warga Banti
  • PKB Belum Tetapkan Calon Pendamping Ridwan Kamil
  • Cekcok Kantor PLO, Palestina Ancam Putus Hubungan dengan AS

“Jadi orang malah jadi keluar masuk untuk merokok, berapa waktu yang terbuang,” kata Tari Menayang dari Komnas Pengendalian Tembakau