Kambing kurban di Pasar Karangpucung Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: KBR/Muhamad Ridlo)



KBR, Cilacap – Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menerjunkan tim untuk mengawasi kesehatan hewan kurban. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Cilacap, Gunawan mengatakan, tim ini juga akan melatih para penyembelih (jagal) terkait tata cara penyembelihan hewan kurban yang halal dan tidak menyiksa.

Kata dia, tim ini juga akan mengawasi ternak yang masuk maupun keluar dari Kabupaten Cilacap. Termasuk di seluruh pasar hewan yang tersebar di Kabupaten Cilacap. Namun khusus untuk hewan yang akan keluar Cilacap, dinas memberlakukan pelabelan gratis.

"Jadi yang higienis itu seperti apa, peri kehewanan juga seperti apa. Jadi tidak hanya perikemanusiaan, peri kehewanan juga ada. Penyembelihan itu kan juga ada etikanya. Terus kita juga, kalau sudah diperika tim kami, dokter hewan, atau peternakan minimal sudah tahu bahwa ini sehat ini tidak," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Cilacap, Gunawan, Senin (29/8/2016).

"Pas hari-H itu nanti kita juga akan menggerakkan teman-teman untuk tiap-tiap masjid, siapa tahu masih ada cacing hati. Itu langsung kita buang," sambungnya.

Selain itu, pengawasan kedua dengan menyebar petugas ke masjid atau lokasi penyembelihan saat Hari Raya Idul Adha. Tim itu terdiri atas dokter hewan dan tenaga khusus lainnya yang nantinya akan memantau jika ada sapi yang terjangkit cacing hati. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, diperkirakan ada 10 persen hewan kurban di Cilacap yang  terjangkit cacing hati.

Cacing hati ini menurut dia, hanya bisa terlihat saat sudah disembelih. Sebab, tanda-tanda penyakit cacing hati sulit dilihat pada performa hewan kurban. Hewan yang tampak sehat sekalipun bisa saja terjangkit cacing hati.



Editor: Quinawaty 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!