Logo Palu-Arit di Spanduk Penolak Tambang Emas, Sarat Rekayasa

Spanduk dengan logo palu-arit itu berbeda dengan spanduk yang dibuat warga penolak tambang. Salah satunya, dari segi penulisan nama perusahaan.

Minggu, 30 Jul 2017 17:23 WIB

Ilustrasi: Aksi Warga Desa Sumberagung pada April 2017 menolak tambang emas di kawasan Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi. (Foto: KBR/ Hermawan)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Banyuwangi - Kemunculan spanduk bergambar logo palu-arit dalam aksi demonstrasi penolakan tambang emas di kawasan Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi, Jawa Timur ditengarai sarat rekayasa.

Salah satu warga Sumberagung yang juga ditetapkan sebagai tersangka dugaan penyebaran komunisme, Budiawan menceritakan keberadaan spanduk berlogo palu-arit di tengah aksi itu pun tiba-tiba. Dia pun mengaku tak mengetahui awal mula spanduk tersebut.

Dia bahkan mengatakan, proses pembuatan spanduk aksi protes itu dibawah pengawasan kepolisian setempat.

"Tidak tahu kalau masalah pastinya siapa yang meletakkan tidak tahu. Kita mulai pembuatan itu dikawal Polsek Pesanggaran jadi satu per satu itu Polsek Pesanggaran itu tahu ada dokumennya. Dan di situ polsek juga menyatakan tidak ada masalah spanduk yang ada gambarnya," tutur Budiawan di Banyuwangi, Minggu (30/7).

Budiawan menduga ada orang yang sengaja menyusupkan spanduk berlogo palu-arit di tengah aksi untuk menjebak warga penolak tambang. Sebab menurutnya ada beberapa kejanggalan pada spanduk tersebut. Spanduk dengan logo palu-arit itu berbeda dengan spanduk yang dibuat warga penolak tambang.

Baca juga:

Salah satunya, dari segi penulisan nama perusahaan.

"Tulisannya juga beda, itu kami kan mengarah ke PT DSI, PT baru itu. Tapi di situ (spanduk bergambar logo palu-arit) tulisannya yang katanya ada gambarnya logo itu kan PT BSI itu kan sudah lain tujuan dari warga," ungkapnya.

Budiawan menambahkan, siap diperiksa polisi terkait kasus dugaan penyebaran komunisme yang dituduhkan kepadanya. Sebab dia merasa yakin dirinya tak melakukan perbuatan yang dituduhkan polisi.

Tuduhan penyebaran komunisme bermula dari demonstrasi warga Desa Sumberagung pada April lalu. Mereka menggelar aksi pemasangan spanduk berisi penolakan terhadap tambang emas PT Damai Suksesindo (PT DSI). Malam setelah aksi, polisi mendatangi beberapa rumah pendemo dan menuduh mereka menggambar logo palu-arit di antara spanduk-spanduk penolakan.

Baca juga:

Kepolisian Banyuwangi pada 12  Mei 2017 pun resmi menetapkan empat orang pendemo tolak tambang sebagai tersangka. Polisi mengklaim telah mengantongi bukti lengkap ketika menetapkan empat warga Desa Sumberagung sebagai tersangka penyebaran ajaran komunisme.

Juru Bicara  Polres Banyuwangi, Bakin  mengatakan barang bukti yang diperoleh  penyidik  sudah lengkap. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah

  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...
  • Ari Dono Sukmanto soal Penanganan Beras Oplosan PT IBU
  • Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI
  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2

Pemerintah Siapkan Regulasi Biaya Minimum Ibadah Umroh

  • Dipecat, Biro Kampus Universitas Malikussaleh Dibakar
  • Polisi Spanyol Lumpuhkan Lima Pelaku Penyerang di Barcelona
  • Perang Narkoba, Polisi Filipina Tembak Mati 13 Orang di Manila

Dalam Perbincangan Ruang Publik KBR kali ini, kita akan punya 5 topik utama, penasaran? ikuti perbincangan Ruang Publik KBR