Dalam Tiga Hari, Dua Ekor Harimau Sumatera Mati di Kabupaten Padang Lawas

Saat ditemukan, ada bagian jasad harimau yang hilang yaitu sepasang taring sebelah kiri dan kumis harimau.

Jumat, 14 Jul 2017 22:12 WIB

Salah satu dari dua harimau Sumatera yang mati di Padang Lawas pada pekan kedua bulan Juli 2017. (Foto: BKSDA Sumatera Utara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Medan - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara menemukan dua ekor harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) mati dalam tiga hari. Dua satwa liar langka itu mati diduga karena sakit.

Dua ekor satwa dilindungi itu mati di lokasi yang berdekatan di Desa Sihaporas, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padang Lawas (Palas), Sumatera Utara.

Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidempuan, Gunawan Alzar mengatakan dua harimau itu ditemukan tak berdaya di hari yang berbeda, yaitu Senin, 10 Juli 2017 dan Rabu, 12 Juli 2017.

"Harimau pertama ditemukan sudah dalam kondisi lemas di depan kantor Koramil Sosopan, sesuai informasi dari petugas Koramil. Tim Seksi Konservasi Wilayah VI Kotapinang bersama Barumun Nagary Wildlife Sanctuary (BNWS) mengevakuasi untuk menyelamatkan harimau tersebut," kata Gunawan Alzar di Kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumut, Jumat (14/7/2017).

Hari itu juga harimau jantan yang lemas itu dibawa ke Barumun Nagary Wildlife Sanctuary untuk mendapatkan tindakan medis, dengan suntikan vitamin dan infus. Namun, kondisi harimau semakin lemah dan makin kritis. Pada Senin malam, harimau berusia antara tiga hingga empat tahun itu tidak tertolong dan dinyatakan mati.

"Untuk mengetahui penyebab kematiannya, dilakukan pengamatan necropsy guna melihat kondisi bagian dalam tubuh harimau dan mengambil beberapa organnya untuk dilakukan cek laboratorium. Hasilnya, tidak ditemukan adanya kelainan pada organ dalam tubuh dan kondisi harimau normal," kata Gunawan.

Dari penyelidikan sementara, tim medis menyimpulkan penyebab kematian harimau dikarenakan sakit yang sudah agak lama sekitar satu hingga dua minggu. Hal itu dilihat dari munculnya belatung di mulut harimau.

Dua hari kemudian

Dua hari kemudian, pada Rabu (12/7) ditemukan harimau Sumatera betina berusia dua hingga tiga tahun dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Lokasi penemuan hewan langka dan dilindungi itu sama persis ketika dilakukan evakuasi harimau pada tanggal 10 Juli 2017.

"Jasad harimau itu ditemukan warga masyarakat di Desa Sihaporas Kecamatan Sosopan Kab Padanglawas. Lalu, tim sampai ke Koramil 07 Sosopan dimana jasad harimau itu diamankan," kata Gunawan.

Berdasarkan pemeriksaan kondisi fisik, pada jasat harimau itu banyak terdapat telur lalat pada bagian tubuhnya, tapi tidak dijumpai luka luar. Saat ditemukan, ada bagian jasad harimau yang hilang yaitu sepasang taring sebelah kiri dan kumis harimau.

"Berdasarkan keterangan Komandan Koramil 07 Sosopan, pada saat diamankan dari lokasi, kondisi jasad harimau sudah seperti itu," ucap Gunawan.

Jasad harimau itu kemudian dievakuasi ke Barumun Nagary Wildlife Sanctuary untuk pemeriksaan jasad dan tindakan necropsy oleh dokter hewan. Berdasarkan pemeriksaan sementara, harimau sepanjang hampir dua meter itu mati karena sakit, karena tidak ditemukan adanya luka pada bagian luar.

"Jasad harimau langsung dibawa dan diserahkan ke BBKSDA Sumut untuk diawetkan atau di-offset. Kini BKSDA menyelidiki hilangnya bagian tubuh pada harimau itu," kata Gunawan.

Harimau Sumatera merpakan salah satu satwa liar yang dilindungi dengan habitat asli di Sumatera. Harimau jenis ini masuk kategori terancam punah dan masuk daftar merah spesies terancam menurut Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan hanya tinggal 400 ekor terutama di taman-taman nasional Sumatera. Ancaman terhadap kelestarian harimau membuat PBB menetapkan setiap 29 Juli sebagai Hari Harimau Sedunia.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Wiranto: Kasus HAM Masa Lalu Sulit Diungkap

  • 131 TKI Ilegal Dideportasi Malaysia
  • Jasa Antar Obat RSUD Blambangan Banyuwangi
  • Pelatih Kritik Kualitas Liga 1