Antisipasi Penyusupan, Imigrasi Nunukan Kaltara Perketat Perjalanan WNI ke Malaysia

Paspor itu milik Irsyad Ahmad Darajat (43 tahun) dan Ali Al Amin (49 tahun). Mereka masuk Malaysia pada 15 Novemer 2016 dan mestinya kembali ke Indonesia pada 23 Desember 2016.

Kamis, 08 Jun 2017 16:08 WIB

Pasukan pemerintah Filipina ketika melawan kelompok bersenjata Maute, yang menguasai Kota Marawi, Pulau Mindanao. Maute merupakan kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. (Foto: ANTARA/)

KBR, Nunukan - Kantor Imigrasi di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara memperketat pengawasan terhadap warga Indonesia yang akan menuju Malaysia.

Kepala Kantor Imigrasi Nunukan Ferry Herling Ishak Suoth mengatakan pengawasan diperketat untuk mengantisipasi adanya anggota ISIS yang menyusup melalui jalur perbatasan. Bahkan, kata Ferry, untuk beberapa warga Indonesia yang berasal dari Pulau Jawa akan diinterview lebih dulu mengenai tujuan ke Malaysia.

"Kami wawancara dan kami tanya tujuannya apa, mau kemana? Kalau perlu kami telpon keluarganya di Malaysia, betul atau tidak ini si A mau berangkat ada acara nikahan atau ketemu saudaranya disana? Sampai begitunya kami lakukan pengawasan," kata Ferry Herling Ishak Suoth, Kamis (8/6/2017).

Ferry menambahan, meski ada pengetatan pengawasan, namun Kantor Imigrasi tidak bisa menahan seseorang bepergian ke luar negeri jika memiliki dokumen paspor lengkap. JIka ada indikasi seseorang terkait dengan kelompok Maute di Filipina, Ferry bakal menyerahkannya ke Polisi atau TNI.

"Kami tanya, Kami verifikasi, Kami cari datanya, kami tanya secara intelijen. Kalau mereka memberi keterangan palsu kan kami juga tidak tahu. Tapi secara formal kita juga tidak bisa menahan," kata Ferry.

Sebelumnya militer Filipina menemukan dua paspor milik warga Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat di Kota Marawi, Pulau Mindanao, Filipina Selatan. Paspor itu ditemukan tentara pascapenyerbuan tentara ke kota yang dikuasai kelompok Maute---milisi aliansi kelompok teroris ISIS.

Paspor itu milik Irsyad Ahmad Darajat (43 tahun) dan Ali Al Amin (49 tahun). Mereka masuk Malaysia pada 15 Novemer 2016 dan mestinya kembali ke Indonesia pada 23 Desember 2016. Namun catatan kantor Imigrasi Nunukan tidak menemukan catatan dua orang itu kembali ke Indonesia.



Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.