Penganut Islam Kejawen di Banyumas dan Cilacap Mulai Puasa pada Minggu

"Sanemro, itu rumusnya. Nem itu jumlah hari, ro itu rangkapnya. Nah. Ini kan Ahadnya itu kan enam, berarti hari Ahad Pon,”

Jumat, 26 Mei 2017 14:29 WIB

Penganut Kejawen di Cilacap menggelar ritual Nyadran Punggahan di Pasemuan Kidul pada Jumat akhir menjelang masuk Ramadan. Nyadran Pasemuan pada Jumat siang akan dilanjutkan Nyadran di masing-masing warga. Foto diambil pada Nyadran menjelang Ramadan 1436

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


KBR, Banyumas– Para Penganut Islam Kejawen di Kabupaten Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah menetapkan  1 Ramadan 1438 Hijriyah jatuh pada  Minggu lusa (28/5).  Juru Bicara Tetua Panembahan Banakeling Pakuncen Kecamatan Jatilawang, Sumitro mengatakan mereka menggunakan kalender qomariyah yang sama dengan kalender hijriyah.

Kata dia, sesuai penanggalan Alif Rebo Wage (Aboge), tiap delapan tahun atau sewindu sekali, kalender akan kembali ke tahun awal. 
Kalender delapan tahunan itu memiliki nama Alif, Ha, Jim Awal, Za, Dal, Ba/Be, Wawu, dan Jim Akhir.
 
Sumitro menjelaskan, tahun ini merupakan tahun Za sehingga perhitungannya adalah Sanemro. Sa diartikan sebagai Selasa yang tahun ini jatuh di hari pasaran Pahing, Nem berarti enam menilik jumlah hari, dan ro merupakan pertanda rangkap. Itu sebab, di tahun Za ini, tanggal 1 Ramadan jatuh pada Minggu.
 
Menurut Sumitro, penanggalan aboge mudah dipelajari karena rumusnya jelas dan tertulis. Awal 1 Ramadan ini bahkan sudah diketahui sejak ratusan tahun yang lalu, sama dengan metode hisab.
 
“Jadi hafalnya kyai, itu hafal dari tahunnya dulu. Tahunnya Alif, Ha, Jim Awal, Za, Dal, Ba/Be, Wawu, dan Jim Akhir. Tanggalnya 1 sura, penanggalannya Aboge, Alif Rebo Wage. Ini masih tahun Za. Berarti Selasa Pahing, 1 Suro-nya. Nah, Selasa Pahing sampai puasa, Sanemro, itu rumusnya. Nem itu jumlah hari, ro itu rangkapnya. Nah. Ini kan Ahadnya itu kan enam, berarti hari Ahad Pon,” jelas Sumitro saat dihubungi KBR, Jumat (26/5/2017).
 
Dalam kesempatan terpisah, Tetua Kelompok Kejawen dari Paguyuban Resik Kubur Rasa Sejati (PRKRS) Desa Kalikudi Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap, Hadi Rismanto mengatakan  juga menetapkan awal puasa jatuh pada Minggu Pon.  Penanggalan yang digunakan juga sama, yakni penanggalan aboge. Penanggalan aboge, menurut Hadi merupakan perpaduan kalender qomariyah yang dikombinasikan dengan penanggalan jawa, yang mengenal hari pasaran. Hari Pasaran itu yakni, Pon, Wage, Kliwon, Manis (Legi), dan Pahing.

“Puasanya itu kan, perhitungannya ada Sanemro. Selasa, Rabu, Kamis,  Jumat, Sabtu, Minggu. Pahing, Pon. Berarti Minggu Pon. Hitungan Aboge. Kalau dari pemerintah belum mendengar ketetapan. Biasanya kan menunggu rapat penentuan dulu ya,” kata Hadi Rismanto, Kamis (25/5/2017).
 
Hadi Rismanto mengemukakan, meski berbeda dalam menentukan awal Ramadan, dia berharap hal itu tak dipermasalahkan. Sebab, sebagaimana penanggalan syamsiyah dan gomariyah, penanggalan Aboge juga memiliki perhitungan yang akurat.

Sebelumnya, Ormas Islam Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan tiba pada Sabtu (27/5). Sementara, ketetapan pemerintah soal awal Ramadan masih menunggu sidang isbat yang akan dilaksanakan pada Jumat sore. Begitu pula, Ormas NU juga masih akan melakukan rukyatul hilal di puluhan titik seluruh Indonesia pada Jumat petang untuk menentukan awal Ramadan.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!

  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum
  • SBY Bertemu Mega di Istana, JK: Bicara Persatuan
  • 222 Triliun Anggaran Mengendap, Jokowi Siapkan Sanksi Bagi Daerah
  • Wiranto Ajak 5 Negara Keroyok ISIS di Marawi
  • Jokowi: Dulu Ikut Presidential Threshold 20 Persen, Sekarang Kok Beda...

Saracen, Analisis PPATK sebut Nama Besar

  • Bentuk Densus Tipikor, Mabes Minta Anggaran Hampir 1 T
  • Bareskrim Sita Jutaan Pil PCC di Surabaya
  • Konflik Myanmar, Tim Pencari Fakta PBB Minta Tambahan Waktu