Buruh Migran Hilang Kontak 18 Tahun, Begini Perjalanan Parinah Kembali ke Indonesia

Kata Ervie berdasar penuturan Parinah, gaji semasa bekerja tak pernah diberikan oleh majikan. Begitupun dengan hak cuti.

Kamis, 12 Apr 2018 18:18 WIB

Parinah (kiri) yang hilang selama 18 tahun tengah memeluk anak pertamanya Sunarti (kanan) ketika tiba di rumah sang anak di Desa Nusawungu, Nusawungu, Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (12/4). (Foto: ANTARA)

KBR, Cilacap – Parinah akhirnya bertemu keluarganya setelah 18 tahun terpisah dan hilang kontak. Buruh Migran Indonesia asal Petarangan, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas itu tiba di rumah anaknya, Sunarti pada Kamis (12/4/2018) pagi. Komunikasi dengan anggota keluarga terputus usai Parinah berangkat bekerja ke Arab Saudi 1999 silam.

Koordinator Pos Pelayanan Pengaduan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (P4TKI) Cilacap, Ervie Kusumasari mengungkapkan, kepulangan Parinah ke Indonesia merupakan kerja sama antara Kementerian Luar Negeri, KBRI London dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI).

Ia menjelaskan, mulanya dua anak Parinah--Parsin dan Nurhamdan--mengantarkan surat aduan ke P4TKI Cilacap pada 6 Februari 2018 lalu. Mereka meminta agar ibunya bisa dipulangkan ke kampung halaman, setelah 18 tahun tak bisa pulang.

Dari surat tertanggal 6 Januari 2018 yang diterima keluarga, diketahui bahwa Parinah tinggal di London, Inggris. Berbekal informasi itu, P4TKI lantas berkirim surat ke BP3TKI Jateng, BNP2TKI yang selanjutnya berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk pemulangan Parinah.

"Ya (sudah tiba) sekitar pukul 09.20 WIB. Kalau awalnya itu kan, anak dari Ibu Parinah ini kan pengaduan di P4TKI Cilacap. Kemudian kami berkirim surat ke BP3TKI dan Kementerian Luar Negeri meminta bantuan pemulangannya. Yang datang itu, dua orang, Mas Parsin dan Nurhamdan, yang ada di Petarangan," tutur Ervie Kusumasari di Cilacap, Kamis (12/4/2018).


Parinah (depan) berjalan didampingi perwakilan Kemenlu dan BNP2TKI setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (11/4) malam. (Foto: ANTARA)

Ervie menerangkan, Parinah tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (11/4/2018) malam. Kemudian atas permintaan Parinah, petugas Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Serang, Banten mengantar perempuan usia 50 itu ke rumah anak sulungnya, Sunarti di Desa Nusawungu, Cilacap, Jawa Tengah. Dua anaknya yang lain, Parsin dan Nurhamdan yang juga di Nusawungu pun menyambut kedatangan sang ibu.

Parinah memulai kerja di Arab Saudi pada 1999 hingga 2001. Lantas setelah itu, ia mengikuti keluarga majikannya untuk pindah ke London, Inggris hingga 2018. Selama belasan tahun itu, menurut Ervie, majikan Parinah menutup akses komunikasi dengan keluarga. Surat-surat balasan dari anak-anak Parinah pun disimpan oleh majikan dan tak pernah sampai ke tangan Parinah.

Tak hanya itu, jerih payah kerjanya juga tak dihargai oleh majikan. Kata Ervie berdasar penuturan Parinah, gaji semasa bekerja tak pernah diberikan oleh majikan. Begitupun dengan hak cuti.

Meskipun, menurut Parinah, majikannya itu tak pernah melakukan kekerasan. Kebutuhan hidup, seperti makanan juga selalu dipenuhi. Hanya saja, saat keluar rumah Parinah selalu dikawal oleh keluarga majikan. Hingga pada April 2018 ia berhasil kabur dari majikan lantas berkirim surat ke keluarganya.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

Pemerintah sebagai pengemban amanah konstitusi harus yakin dan percaya diri dalam mengendalikan konsumsi rokok. Konstitusi mengamanahkan agar konsumsi rokok diturunkan demi kesehatan masyarakat.